Jelajah 3 Pulau : Pulau Onrust
Pulau Onrust : Sejarah Yang Mulai Hilang Tergerus (3 in 1)
Pulau Onrust, DKI Jakarta, Matahari sedang menempati posisi puncaknya tanpa ditutupi oleh sang awan hanya rindang dedaunan yang menghalangi sinarnya.
Pulau ini sempat menjadi buah bibir dikalangan pelancong, karena beredarnya beberapa cerita tentang pulau ini yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
Aku pun penasaran untuk mencari tau tentang hal tersebut, bukan karena cerita misterinya tapi karena sejarah tentang pulau ini yang cukup aneh, misterius, dan beragam sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Pulau Onrust telah terlihat dari kejauhan. Akhirnya rasa penasaran saya akan terjawab sebentar lagi, yaitu saat perahu kayu yang kami gunakan berlabuh dan merapat ke dermaga yang ada di Pulau Onrust.
Tali yang tersambung pada perahu sudah ditambatkan. Seusai berjalan menuruni kapal kayu dan menuju ke daratan, kami pun segera mencari tempat untuk berkumpul. Trip leader saya yang sekaligus komandan kapal kayu kami mengajak untuk ikut berkeliling pulau sambil dijelaskan sejarah singkat tentang tempat ini. Seorang pemandu lengkap dengan pengeras suara elektronik sudah berjalan lebih dulu untuk memimpin di depan.
Pulau ini cukup ramai, ada beberapa rumah penuduk yang didirikan di sini berbaur dengan bangunan tua yang sudah lapuk termakan usia. Beberapa pohon hias tertata rapi tapi tak sedikit pula pohon-pohon besar yang menjulang tinggi berada di sekitar tempat ini. Kami pun masuk ke sebuah bangunan yang berisi berbagai peninggalan sejarah pulau ini, bangunan ini dikenal dengan Museum Pulau Onrust. Beberapa benda, poster dan maket pulau dari masa ke masa ikut melengkapi penjelasan yang diberikan oleh pemandu.
“Selamat datang di Pulau Onrust! Pada masa lampau masyarakat di sekitar sini menyebutnya dengan Pulau Kapal, Karena sebelum kapal-kapal berlabuh di Batavia mereka akan singgah di pulau ini terlebih dahulu, begitu pula dengan kapal yang hendak meninggalkan Batavia. Arti dari nama Pulau Onrust adalah “Tanpa Istirahat” atau selalu sibuk. Mungkin karena dulu di sini banyak kegiatan bongkar muat kapal yang seolah tidak pernah berhenti bekerja, tak pernah beristirahat. Pada tahun 1613-1615 di tempat ini dibangunlah sebuah galangan kapal, karena VOC melihat bahwa banyaknya kapal yang singgah sering membutuhkan perbaikan. Pada tahun 1618 Jan Pieterzoon Coen menjadikan pulau ini sebagai pulau pertahan terhadap serangan Banten dan Inggris. Sebuah Benteng kecil yang dilengkapi dengan 2 Bastion (bangunan pos pengintai) dibangun di sini pada tahun 1656. Barulah pada tahun 1674 dibangun gudang penyimpanan barang dan besi. Namun semua bangunan yang ada di Pulau Onrust sempat dimusnahkan oleh pasukan Inggris yang ingin memblokade batavia pada tahun 1800. Setelah sempat dibangun lagi dan kemudian dihancurkan oleh armada Inggris lagi pada tahun 1848 barulah pulau ini dapat difungsikan sebagaimana awalnya dan dikembangkan pembangunannya hingga tahun 1856.”, pemadu tersebut bercerita panjang lebar.
“Pada tahun 1911 pulau ini berubah fungsi menjadi asrama haji hingga tahun 1933 karna saat itu bila ingin naik haji hanya dapat ditempuh dengan jalur laut saja. Sehingga pada calon jamaah haji harus mulai dibiasakan untuk dapat bertahan selama melakukan perjalanan di laut lepas. Sebelumnya sempat juga pulau ini dijadikan Sanatorium TBC. Namun, sejak tahun 1933 hingga 1940 pulau ini digunakan sebagai tempat menawan para pemberontak pada “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provicien). Pada tahun 1942, Jepang berkuasa di Batavia dan menggunakan pulau ini sebagai penjara bagi penjahat kelas berat. Pada masa kemerdekaan RI, pulau ini dijadikan sebagai Rumah Sakit Karantina untuk penderita penyakit menular. Dan pada tahun 1960-1965 dijadikan tempat penampungan gelandangan dan pengemis serta sempat pula dijadikan tempat latihan militer. Baru pada tahun 1972, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan tempat ini sebagai Pulau Bersejarah dan dikelola sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu.”, lanjut sang pemandu menjelaskan.
Kami digiring untuk mengelilingi pulau dan diperlihatkan bekas bangunan-bangunan yang ia ceritakan tadi. Suasana sepanjang perjalanan terasa sejuk karena langit seolah tertutup oleh rimbunnya daun pohon-pohon besar yang ada sehingga sinar matahari pun terhalang. Melewati bagian tengah pulau bulu kuduk terasa berdiri entah kenapa. Aku mencoba memandang ke sekitar, ku temukan di tempat itu terdapat sebuah pohon sangat besar. Mungkin usianya sudah puluhan atau ratusan tahun. Karena asik mengamati dan berfoto, aku, Ra, Vin, dan Ian sempat tertinggal rombongan pemandu. Kami pun segera melanjutkan perjalanan mengikuti jalan setapak yang ada berharap dapat mengejar mereka.
Baru berjalan sebentar, Ra pun tak dapat menahan diri untuk mengamati reruntuhan bangunan yang dulunya digunakan sebagai bangsal-bangsal rumah sakit dan asrama haji. Akhirnya aku pun ikut ke sana untuk menemaninya menelusuri bangunan tersebut walaupun resikonya kami akan semakin tertinggal oleh rombongan pemandu. Dan ternyata benar, hanya ada kami berdua di jalan setapak ini sekarang, sepertinya Vin dan Ian sudah lebih dulu dan lebih jauh berjalan menyusuri jalan setapak.
“Kayanya kita sudah tertinggal jauh dari rombongan deh, Ra.”, ucapku.
“Iya nih, lanjut jalan aja deh yuk! Siapa tau masih bisa dikejar”, ajak Ra.
Berjalan menyusuri jalan setapak, mengantarkan kami tanpa terasa sudah mengelilingi setengah bagian pulau. Hingga kami tiba di sebuah Pemakaman Belanda yang sangat tua,
Dutch Graveyard begitu mereka menyebutnya. Suasana mulai terasa mencekam saat memasuki area pemakaman. Tanpa bisa ditahan sesekali bulu kuduk terasa berdiri. Terdapat sekitar 40 makam yang konon merupakan warga belanda yang dulu menetap di pulau ini, sebagian besar dari mereka meninggal muda akibat penyakit tropis dan wabah penyakit pes. Salah satunya adalah makam seorang anak yang umurnya hanya sampai 9 tahun saja, padahal ia lahir dan wafat di Pulau onrust.
Ada salah satu makam yang sangat menarik perhatian saya di area tersebut. Nisannya cukup besar dengan tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda. Cerita tentang makam Inilah yang kerap diperbincangkan di kalangan traveller yang pernah atau akan menjelajahi tempat ini. Makam ini adalah tempat persemayaman terakhir seorang gadis yang bernama Maria Van de Velde.
Ia adalah seorang gadis yang lahir di Kota Amsterdam, kemudian menetap di pulau ini hingga ia wafat pada tahun 1721. Ia masih berusia 28 tahun ketika meninggal. Sayangnya, cerita tentang kematian gadis yang masih berusia muda itu terasa sangat menyedihkan. Sebelum wafat ia dikisahkan sedang menunggu kekasihnya yang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke pulau tersebut. Mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan begitu sang kekasih tiba di pulau tersebut.
Namun, manusia boleh berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan. Sang kekasih tak kunjung datang menemuinya, kabarnya ia wafat di perjalanan. Maria yang merasa sangat sedih karena penantian yang tak berujung, menjadi sering sakit dan tak kunjung membaik. Mungkin juga karena adanya wabah penyakit tropis dan pes yang sedang menjangkiti pulau tersebut. Hingga akhirnya ia wafat, konon ia dikebumikan masih mengenakan baju pengantinnya. Dari beberapa cerita, ia masih sering terlihat di sekitar pulau masih mengenakan baju tersebut hingga sekarang. Entah benar atau tidak, saya sendiri juga belum mengetahuinya. Tapi bagian ini yang bikin saya merinding.
![]() |
Kalau mau baca lebih jelas tulisan dalam bahasa Belandanya bisa di-klik gambarnya,
kalau mau tau artinya apa bisa googling biar lebih jelas artinya, saya takut salah menafsirkan.
|
Setelah melihat-lihat area Dutch Graveyard kami pun berjalan mengikuti jalan setapak hingga lagi-lagi kami melihat beberapa makam pribumi. Dan tak jauh dari sana terdapat sebuah makam yang di dekatnya tertulis Makam Keramat (Sacred Grave). Tidak begitu kami ketahui siapa sebenarnya yang dimakamkan di sini. Konon ini adalah makam petinggi DI/TII S.M. Kartosoewiryo, tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia dimakamkan di Pulau Ubi yang sekarang sudah hilang karena abrasi air laut. Saya jadi bertanya dalam hati, mengapa tempat ini dipenuhi banyak makam? Dan hari ini diisi dengan mengunjungi banyak pemakaman.
Mungkin aku sedang diingatkan bahwa "Kematian itu sangatlah dekat" dan kita harus siap untuk menghadapinya.
Perjalanan hari ini terasa penuh misteri, karena beberapa kali kami menjumpai makam-makam yang sudah berumur sangat tua ketika berjalan mengitari pulau. Hingga muncul pula perasaan tidak enak di dalam hati. Entah karena suasana dan aura tempat ini atau karena sebenarnya kami sudah lapar. Namun semua perasaan itu pun akhirnya hilang, ketika kami melihat rumah penduduk yang merangkap menjadi warung-warung makan. Senyum sumringah segera menghiasi wajah kami lagi. Ingin rasanya aku berlari untuk segera mendapatkan air kelapa muda yang dipadu dengan es batu dan ditambah dengan gula merah. Serta berlari lebih cepat lagi menuju warung demi seporsi makanan untuk disantap.
Di ujung jalan setapak ini, kami akhirnya bertemu lg dengan para anggota rombongan kapal kayu kami. Aku pun jumpa pula dengan Vin dan Ian yang sedang memegang kotak makanan untuk kami. Segera kami semua mencari lapak untuk makan. Duduk di bawah pohon yang ada di tepi pantai dan memandang ke arah laut sambil memakan nasi yang ada di dalam kotak terasa begitu nikmat, apalagi ditambah dengan es kelapa muda yang dicampur gula merah.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman : 55 )
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman : 55 )
Seusai makan kami pun segera beribadah di tempat yang sudah disediakan. Tak terasa lebih dari 2 jam kami berada di pulau ini. Matahari pun sudah mulai condong ke arah Barat. Dan kami harus segera kembali ke Pelabuhan Muara Kamal sebelum matahari tenggelam di Barat. Sudah cukup rasanya remah-remah peninggalan “Perjalanan” yang dapat aku kumpulkan di tempat ini. Aneka misteri dan History menjadi bahan pelajaran yang bisa aku ambil hikmahnya. Entah dari mana datangnya suara sebuah lagu yang terngiang di telinga ini.
I won't be the last
I won't be the first
Find the way
to where the sky meets the earth
Its all right and all wrong
for me it begins at the end of the road
We come and go
I won't be the first
Find the way
to where the sky meets the earth
Its all right and all wrong
for me it begins at the end of the road
We come and go
Sebuah lagu dari Eddie Vedder - End Of The Road (Soundtrack Into The Wild) seolah ingin menutup perjalanan di pulau ini.
Namun, masih ada perjalanan yang harus kami lakukan, menuju ke pulau selanjutnya. Sebuah tujuan yang entah akan menyambut kami dengan apa dan bagaimana, tapi yang pasti di sana lah perjalanan hari ini untuk sementara akan berakhir.
Di Pulau Cipir.
Location : Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta







0 comments