Jelajah 3 Pulau : Pulau Cipir
Pulau Cipir : Hadiah Yang Tak Pernah Terpikir Saat Perjalanan Hampir Berakhir (3 in 1)
Pulau Cipir, DKI Jakarta, Saat matahari semakin condong ke arah barat dan kapal akan segera merapat.
Pulau Cipir adalah tujuan perjalanan kami yang terakhir, karena setelah mampir semua keseruan ini akan segera berakhir. Namun kami tidak lagi khawatir, tempat ini menyambut kami dengan hamparan pasir. Putih warnanya di setiap butir berbaur dengan ombak yang terus mengalir. Hingga aku pun ingin segera bermain air, untuk menyegarkan badan ku yang pegal setelah berplesir.
Sesaat setelah kami turun dari kapal, trip leader ku mengatakan bahwa kami punya waktu yang cukup lama untuk bersantai di sini. Karena kami akan kembali ke Pelabuhan Muara Kamal saat menjelang petang. Di pulau ini lebih banyak pula area yang berpasir dibanding dua pulau sebelumnya sehingga jika ingin bermain-main pasir atau sekedar membasahkan kaki dengan air laut lebih nyaman untuk dilakukan. Ada beberapa kamar mandi umum yang dapat kita gunakan untuk membilas badan yang kotor dan berpasir. Bila merasa lapar setelah bermain air terdapat pula sebuah warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat untuk mengisi perut.
Rasa pegal di kaki membuat kami lebih ingin duduk-duduk santai di tepian pantai. Namun, suasana pantai dekat dermaga yang ramai oleh pengunjung membuat kami merasa area itu bukan tempat yang pas untuk istirahat. Saat itu warung pun sedang ramai dipenuhi oleh para pembeli yang sudah datang mendahului kami. Akhirnya kami berjalan lagi menyusuri jalur utama yang ada di sini hingga tiba di pantai yang ada di bagian belakang pulau. Di tempat itu terdapat lebih sedikit pengunjung di banding bagian depan pulau dan mereka juga tampaknya sedang duduk-duduk santai atau beberapa dari mereka sedang merebahkan diri di atas pasir. Setelah mencari tempat yang cukup rata dan nyaman untuk diduduki, kami berempat segera menjatuhkan diri di sana.
Menikmati semilir angin sambil meluruskan kaki sungguh nikmat rasanya. Sesekali aku memperhatikan dua orang anak kecil yang sedang membuat gundukan pasir, entah apa sebabnya aku pun tersenyum kecil memandang mereka. Mungkin ekspresi mereka yang lugu sambil sesekali tertawa saat tau bahwa pasir yang mereka tumpuk ternyata kembali terseret ombak tapi segera mereka kumpulkan lagi. Sedikit demi sedikit mereka kumpulkan kembali pasir yang sempat hanyut hingga menjadi gundukan pasir yang besar. Hingga saat ombak kembali menyeret pasir yang menggunung itu ke arah laut lagi, mereka tidak khawatir karena masih banyak persediaan pasir di gundukan itu.
Rasanya seperti aku diajari oleh kepolosan mereka saat itu, bagaimana caranya untuk tetap ikhlas dan tidak berhenti berusaha walaupun semua yang telah kita kumpulkan diseret kembali oleh ombak ke tempatnya semula. Bukan ekspresi kesal atau kecewa saat pasir mereka dicuri oleh sang ombak, tapi senyum dan tawa yang seolah menantang sang ombak untuk jangan sekali-sekali berani mengambil apa yang telah mereka kumpulkan. Karena jika ombak mengikis gundukan pasir mereka sebanyak satu kepalan tangan maka mereka akan mengambil lagi pasir yang hanyut sebanyak dua kepalan tangan.
Senyum yang terpampang di muka ku saat itu adalah ungkapan ekspresi bahagia seperti saat para ilmuan penemu berhasil menemukan suatu hal yang baru, lalu mereka pun akan berkata “Eureka, aku menemukannya!” sambil tersenyum kecil. Kira-kira seperti itu. Perasaan ku bahagia saat itu, menemukan hal baru yang menambah kemampuan ku untuk jadi lebih bijaksana. Pelajaran yang mereka berikan tentang bagaimana kita harus tetap ikhlas saat sesuatu yang sudah susah payah kita kumpulkan tiba-tiba tanpa aba-aba diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki. Karena sejatinya memang semua yang kita kumpulkan adalah milik-Nya.
Kesal dan marah mungkin wajar saat apa yang kita punya diambil, tapi bukankah anak-anak kecil itu memperlihatkan padaku bahwa jika senyum dan tawa lebih membuat kita bersemangat saat mencoba mengumpulkan kembali apa yng telah hilang. Yah, jika aku ingin berdalih aku bisa saja berkata bahwa aku sudah tak sepolos mereka. Mereka mungkin masih lugu, makanya belum terlalu dapat merasakan apa yang dinamakan KEHILANGAN, segalanya lenyap padahal semua itu sudah sedari lama kau perjuangkan.
Setelah kupikir-pikir ternyata memang benar itu semua hanya dalih, kesempatanku satu-satunya untuk berkelit dan mempertahankan egoku. Padahal jika mau jujur sejatinya aku iri pada mereka, Karena mereka punya sesuatu yang sudah tidak ada lagi dalam diriku. KEPOLOSAN, KELUGUAN, APA ADANYA. Semua kata itu adalah sesuatu yang sebenarnya yang sudah diambil dariku tanpa aku sadari. Sehingga aku pun kecewa saat sesuatu yang aku punya diambil dariku, bukan kecewa karena kehilangan sesuatu hal tersebut. Sejatinya karena kecewa aku sudah tidak POLOS dan LUGU lagi, sehingga aku sudah tidak bisa lagi menerima semua kehilangan itu dengan APA ADANYA.
Padahal bukankah orang yang besar adalah orang yang setelah gagal masih mau bangkit dan mencoba lagi? Mau menerima dengan lapang dada dan apa adanya.
Mungkin mereka memang masih anak kecil, tapi kawan taukah kamu bahwa badan yang kecil bukan berarti jiwa yang terperangkap di dalamnya juga kecil, bisa jadi jiwa yang besar justru ada di dalam sesuatu yang kita anggap kecil.
Mungkin kita orang yang merasa dewasa harus mulai belajar untuk melihat segala sesuatu dari ISI-nya bukan WADAH-nya.
Ombak yang menyentuh kaki ini pun membuat ku sadar dan kembali ke dunia nyata, padahal sebelumnya aku berada di dimensi ruang berpikirku. Semuanya terasa hanya sekejap saja tapi nyatanya waktu sudah berlalu cukup lama. Kami harus segera beranjak lagi dari tempat ini.
Bangun pagi sinar mentari hangat di hati
seiring Bob Marley nyanyikan lagu cinta
Aku belum mandi dan gosok gigi,aku sudah di air
Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas
seiring Bob Marley nyanyikan lagu cinta
Aku belum mandi dan gosok gigi,aku sudah di air
Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas
Lagu Imanez - Anak Pantai seolah ikut mengiringi kesadaran ku.
Kawan, taukah kamu? Tersadar kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya berada di alam pikiran itu rasanya seperti bangun dari mimpi. Berat untuk bangkit, enggan untuk bergerak kembali, rasanya ingin melanjutkan tidur dan bermimpi. Tapi bagaimana bisa membuat mimpi indah ini menjadi sebuah kenyataan? Kalau untuk bangun saja kita malas. Oke. Oke. Saya akan segera bangun. Tapi setelah ngulet dulu.
Bangkit dan tersadar dari lamunan benar-benar membuat perut ini keroncongan. Segera kami berjalan menuju ke sebuah warung makan. Namun, sangat disayangkan semua kursi telah dipenuhi oleh para pengunjung. Akhirnya kami hanya membeli beberapa makanan ringan saja untuk dimakan sambil jalan. Beberapa kue dan minuman sudah ada di tangan, sekarang saatnya mencari tempat persinggahan. Sambil berjalan, kami melewati beberapa bangunan tua bekas peninggalan dari masa lalu.
Kami punya beberapa tempat untuk dijadikan lokasi terakhir bersantai sambil menunggu kapal. Lokasi bangunan tua, pinggir pantai dekat dermaga, atau di sebuah pendopo. Ketika akan berembuk, tiba-tiba seseorang menyeletuk.
“Duh, kayanya aku kebelet kencing nih.”, ucap Ra.
“Sama, Ra. Aku juga mau ke toilet nih.”, ujar Vin.
“Oke, kami tunggu kalian di pantai dekat dermaga saja ya!”, ucap Ian.
Secara bersamaan aku dan Ian berjalan menuju pantai, sedangkan Vin dan Ra berjalan menuju toilet umum terdekat. Sesampainya di pantai, aku melihat beberapa benda yang sudah digerogoti oleh karat tapi masih dapat dikenali bentuknya. Benda yang ada di dekatku saat itu adalah sebuah meriam tua yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya. Tak bisa kubayangkan bagaimana dulu mereka yang ada di pulau ini begitu mengandalkannya sebagai senjata untuk membuat karam kapal musuh.
Kulihat Ian sedang menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Sesaat sebelum ia memulai percakapan, ku utarakan padanya bahwa aku akan jalan sebentar untuk melihat lihat meriam-meriam tua. Ia mengacungkan jempolnya padaku sebagai tanda bahwa ia mengerti dan setuju. Baru beberapa langkah aku berjalan untuk mendekati meriam yang kedua, sesuatu dari atas pohon tiba-tiba seperti jatuh hendak mengenai pundak belakang ku. Antara kaget dan takut aku ingin melihat ke arah belakang, karena aku sangat yakin benda itu bukanlah sebuah batang pohon. Aku menolehkan kepala.
Seekor monyet jawa berekor panjang, Macaca fascicularis, sedang terjun bebas hendak menemplok di bahu ku. Refleks aku melompat menjauhinya. Kaget dan rasanya jantung ini mau copot. Hanya satu yang membuat perasaanku lega kembali, ternyata rantai yang membelit sang monyet tidak cukup panjang untuk menggapai ku. Akhirnya ia berayun menuju ke rumah pohonnya kembali. Mungkin itu adalah monyet peliharaan pengurus pulau batinku. Walaupun ingin rasanya hati ini maklum pada tingkah lakunya, tapi rasa kesal karena telah dibuat kaget membuatku ingin menggoda balik sang monyet.
Ada sebuah pisang yang tergeletak di bawah rumah pohonnya. Aku lihat rantai sang monyet tidak cukup panjang untuk membiarkannya menggapai pisang itu. Ku ambil pisang tersebut secepat mungkin. Saat sang monyet berusaha menangkapku kembali, aku sudah berhasil menghindar. Namun bedanya, kali ini aku punya senjata pamungkas berupa pisang. Hahaha, akan aku tunjukan bagaimana caranya membuat seekor menangis, ucapku dalam hati.
Aku pamerkan pisang tersebut di depannya dari jarak aman yang tidak mungkin tergapai karena rantai yang membeitnya tidak cukup panjang. Sang monyet yang melihat pisang kuning segar segera melompat untuk menggapainya tapi sayangnya ia harus kembali berayun karena tidak sampai untuk menyentuh pisang. Berkali-kali dicobanya tapi tidak berhasil hingga ia mengeluarkan suara gaduh karena mungkin kesal tidak dapat mengambil pisang yang aku pegang. Aku pun akhirnya iba.
“Nih pisangnya, jangan suka bikin kaget orang lagi ya, Nyet!”, ucapku pada sang monyet sambil melemparkan pisang. Seperti Tarzan rasanya mencoba mengajak ngobrol seekor monyet. Tapi sayangnya saya bukan Tarzan, juga bukan saudara sang monyet, yang bisa mengerti bahasanya.
Bersamaan dengan aku melempar pisang, kudengar suara orang berjalan dan berbicara.
“Berisik amat monyetnye! Ade ape ye?”, ucap salah seorang pengurus.
“Mungkin kesenengan karena dapat pisang, Bang! Tadi pisangnya jatoh, saya lemparin saja ke dia”, ucapku sambil menunjuk monyet yg sedang lahap makan pisang. Hampir saja kepergok lagi ngerjain monyetnya abang ini, ucapku dalam hati.
“Iya kayanya, mungkin laper dia.”, ucap sang penjaga.
“Ini monyet peliharaan, Abang?”, tanyaku.
“Iya, Mas. Lumayan buat hiburan dan penghilang jenuh.”, jawabnya.
“Sudah lama tinggal dan ngurus di sini, Bang?, tanyaku lagi.
“Lumayan lah. Oiya, tinggal di mana, Mas?”, jawabnya sekaligus bertanya.
“Saya di Cilandak, Jakarta Selatan, Bang.”, jawabku.
“Bang, dulu di pulau ini tempat buat aktivitas apa saja? Kok sepertinya banyak reruntuhan bangunan tua tapi kondisinya masih ada yang utuh beberapa, dan beberapa terlihat seperti barak atau bangsal rumah sakit.” Tanyaku padanya.
“Nih ane (saya) kasih tau, Pulau ini ‘ga hanya disebut Pulau Cipir atau dalam bahasa Belandanya disebut Kuijper, tapi dulu juga disebut dengan Pulau Khayangan. Sekitar abad 19, mungkin tahun 1911 pulau ini jadi lahan Rumah Sakit bagi penderita penyakit menular yang butuh perawatan atau karantina. Serta digunakan sebagai pusat karantina bagi para jamaah yang akan berangkat ibadah Haji pula.”, Jelasnya cukup panjang.
“Wah, hampir sama dengan yang ada di Pulau Onrust ya, Bang?”, tanyaku kembali.
“Betul, erat memang kaitan antara 3 pulau di sini, Onrust, Cipir, dan Kelor. Konon ada sebuah jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Kalau kamu penasaran dan mau lihat, kamu bisa jalan ke bagian Pulau Cipir yang menghadap ke arah Pulau Onrust. Seperti ada bagian yang menjorok ke arah lautan dan mengarah ke Pulau Onrust.”, Jelasnya padaku lagi.
Aku hendak bertanya kembali, tapi ku dengar suara yang tak asing di telinga ku.
“Ra, Wira! Ayo ke dermaga! Kapalnya sudah datang nih.”, ajak Ian padaku dari kejauhan.
“Oke, Ian! Aku ke sana.”, jawabku.
“Bang, makasih ya ceritanya! Semoga bisa ketemu dan ngobrol lagi. Bisa ngerjain.. eh ngasih makan monyetnya lagi.”, ucapku.
“Siap, sama sama, Coy!” ujarnya.
Aku pun meninggalkan tempat itu dan segera berjalan menuju kapal. Ku lihat Ra dan Vin sudah bergabung dengan Ian untuk segera naik ke atas perahu. Sebagai penumpang terakhir yang naik ke atas perahu, aku pun segera duduk di tempat kosong agar kapal tidak perlu menunggu lama untuk bergerak. Perahu berjalan mengarungi lautan segera setelah mesin dinyalakan dan kami pun meninggalkan Pulau Khayangan yang sekarang terlihat kecil dari kejauhan. Hingga akhirnya kami tiba kembali di Pelabuhan Muara Kamal.
Perpisahan tidak dapat kami hindari, sudah saatnya kami pulang ke kediaman kami masing-masing. Berjalan menjauhi Pelabuhan Kamal Muara hingga tiba di sebuah pangkalan tempat angkutan umum yang berupa omprengan sedang mangkal. Kami pun segera menaiki mobil berkapasitas 11 penumpang yang akan mengantar kami ke halte Transjakarta terdekat. Sekitar setengah jam berkendara, akhirnya kami pun tiba di Halte Rawa Buaya. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki Bus Transjakarta yang akan membawa kami ke tujuan. Pulang menuju rumah.
Setelah sebuah perjalanan kita mulai, tentu akan diakhiri dengan kata selesai. Namun, secara bersamaan suatu hal baru juga akan dimulai kembali. Sebuah awal menjadi akhir, dan sebuah akhir akan menjadi awal kembali. Begitulah siklusnya, untuk setiap apa yang kita anggap ada. Karena, tidak ada suatu hal pun yang diakhiri dengan kehampaan dan ketiadaan. Semua itu hanya sebuah permulaan. Permulaan yang baru.
Begitu juga denganku, akan aku lanjutkan perjalanan mencari mencari setiap remah-remah yang telah Ia tinggalkan. Setiap kepingan nilai yang telah Ia dijatuhkan, berserakan di berbagai tempat berharap untuk segera ditemukan. Semua itu akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.
Location : Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta








0 comments