Powered by Blogger.
  • Home
  • Travel Guide
  • Travel Story
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Puisi
  • Celoteh
  • About
  • Contact

RendyKamil

facebook google twitter tumblr instagram linkedin
travel guide
Kota Garut sering kali disebut juga sebagai Swiss van Java, selain karena hawanya yang dingin dan dikelilingi oleh pegunungan di kota ini juga banyak terdapat tempat wisata yang mempunyai berbagai macam karakterisktiknya sendiri-sendiri.

Untuk menuju ke sana sebenarnya sangatlah mudah namun terkadang kendalanya adalah kurangnya informasi atau kurangnya keinginan kita sendiri untuk mencari tau berbagai cara untuk sampai ke sana. Padahal wilayah tersebut telah siap sedia menawarkan berbagai pesonanya.

Kali ini daerah yang saya datangi adalah Gunung Papandayan.
Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Pulau Tidung.
  • Mengikuti Open Trip yang sering dibuka oleh penyedia jasa perjalanan, total biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah daripada kita pergi sendiri. Namun kekrangannya kita akan terikat oleh jadwal yang diberikan oleh pemandu.
    • Bisa dilihat dan dicari di sini
  • Melakukan perjalanan sendiri, tipe ini sangat cocok untuk kita yang lebih ingin bebas dalam bepergian. Namun, biaya yang dikeluarkan bisa lebih mahal tergantung jumlah orang yang ada.
    • Perjalanan sendiri dapat dilakukan dengan mengendarai Bus, Mobil, atau Sepeda Motor
Terdapat beberapa Terminal Bus yang ada di Kota Jakarta yang menyediakan transportasi umum untuk ke sana, yaitu :
  • Terminal Kampung Rambutan
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Kampung Rambutan, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
via www.lensaindonesia.com
  • Terminal Tanah Abang
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Tanah Abang, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal Lebak Bulus
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Lebak Bulus, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal Kali Deres
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Terminal Tanah Abang, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
  • Terminal / Pool Bus Cililitan
    • Menaiki Transjakarta Busway hingga ke Cililitan, dengan biaya Rp 3.500
    • Dari terminal ini kita bisa menaiki Bus AKAP (antar kota antar propinsi) menuju ke Terminal Bus Guntur, Garut dengan harga tiket berkisar antara RP 50.000 – 60.000
via www.liputan6.com

Setelah tiba di Terminal Guntur Garut, kita dapat menaiki angkutan umum yang terdapat di area terminal. Ada beberapa jenis angkutan yang menuju ke arah Gunung Papandayan, yaitu :
  • Angkutan Umum
    • Angkutan ini bertrayek Terminal Guntur Garut – Samarang, kita bisa berhenti di Desa Cisurupan tepat di depan pintu gerbang / gapura menuju Camp David, Papandayan.
  • Angkutan Carteran / Sewa
    • Angkutan ini memang khusus mendedikasikan dirinya untuk mengantar para pendaki hingga menuju ke Desa Cisurupan tepat di depan pintu gerbang / gapura menuju Camp David, Papandayan. Dengan biaya berkisar antara Rp 15.000 – 20.000 dan baru akan berjalan bila mobil telah diisi oleh 5 orang atau lebih.
Setelah tiba di Desa Cisurupan, kita masih harus melanjutkan perjalanan untuk menuju camp david, yaitu pos pertama pendakian Gunung Papandayan. Ada beberapa jenis angkutan yang menuju ke sana, yaitu :
  • Angkutan Umum Bak Terbuka
    • Angkutan ini bertrayek Desa Cisurupan (Gapura Papandayan) – Camp David, para pengelola angkutan ini memberikan tarif antara Rp 15.000 – 20.000 dan baru akan berjalan bila mobil telah diisi oleh 5 orang atau lebih. Jika kelompok pendaki kurang dari 5 orang maka akan lebih disarankan untuk menggunakan moda transportasi ojek.
  • Ojek
    • Angkutan ini memang khusus mendedikasikan dirinya untuk mengantar para pendaki hingga menuju ke Camp David. Dengan biaya yang ditawarkan berkisar antara Rp 35.000 – 40.000.
Jika kita menggunakan kendaraan pribadi roda empat dari Jakarta,
kita bisa menyusuri rute berikut ini :
  • Bawalah kendaraan anda menuju Jalan Bebas Hambatan / Tol Cikampek
  • Kemudian lanjutkan ke arah Tol Cipularang
  • Keluar di Gerbang Tol Cileunyi dan dilanjutkan berjalan ke arah Nagrek
  • Kemudian menuju Kota Garut dan mengambil rute ke arah Samarang, Desa Cisurupan.
  • Lajutkan perjalanan menuju ke Camp David, Papandayan dan di sana kita dapat memarkir kendaraan kita di area parkir yang ada.
Jika kita menggunakan kendaraan pribadi roda dua dari Jakarta, kita bisa menyusuri rute berikut ini :
  • Bawalah kendaraan anda menuju Jalan Raya Kalimalang, Jalan Raya Jonggol, atau Jalan Raya Puncak
  • Kemudian lanjutkan ke arah Bandung
  • Arahkan kendaraan anda menuju ke Cileunyi dan dilanjutkan berjalan ke arah Nagrek
  • Kemudian menuju Kota Garut dan mengambil rute ke arah Samarang, Desa Cisurupan.
  • Lajutkan perjalanan menuju ke Camp David, Papandayan dan di sana kita dapat memarkir kendaraan kita di area parkir yang ada.
Camp David

Sesampainya di Camp David kita diharuskan melaporkan rencana kegiatan dan anggota kelompok kita yang akan memasuki area Papandayan.

Jika kita hendak berkemah di Goberhood / Pondok Salada, kita juga diharuskan untuk mengisi buku daftar hadir yang ada di Pos 2 pendakian yang terletak di area Goberhood.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di Papandayan :
  • Mandi air panas di pemandian alami Papandayan
  • Kemah / Camping ceria di bumi perkemahan Camp David, Goberhood, Pondok Salada.
pondok saladah
  • Menjelajahi Kawah Papandayan yang masih aktif
menuju kawah papandayan

6
  • Hiking hingga ke Padang Pohon Edelweiss, Anaphalis javanica di Tegal Alun atau melanjutkan pendakian hingga ke Puncak.
tegal alun

Disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman untuk menghemat pengeluaran serta untuk mengganjal perut selama di perjalanan di atas kapal. Bagi yang punya masalah mabuk laut, disarankan untuk membawa obat anti mabuk.

Jakarta selatan,
Suatu pagi yang cerah di hari Minggu.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
tegal alun kabut
Garut, Senin sore, saat langit sedang menumpahkan segala fluida-nya yang berupa cairan dan gas, mereka diramu menjadi satu.

Kesempatan kami untuk menikmati indahnya Tegal Alun tampaknya juga harus segera diakhiri. Kami lihat dari jauh, cuaca sudah tak bersahabat, pekat kabut yang semakin mendekat seolah memberitakan bahwa sebentar lagi proses siklus air yang menguap menjadi gas akan segera menjadi air kembali di tempat ini. Namun kami masih ragu, apakah ini hanya akan berlangsung sesaat atau terus-menerus. Bersama akhirnya kami putuskan untuk menunggu terlebih dahulu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kawan, pernahkah kamu merasakan bagaimana rasanya berada di dalam awan yang ada di atas gunung? Gumpalan putih yang jika dilihat dari kejauhan seperti gumpalan gula-gula kapas itu menerpa dan mengurung kami dengan wujudnya yang berupa butiran-butiran air. Awalnya semua tak berlangsung lama. Hanya rintik hujan kabut kecil yang kami rasa. Kabut pekat itu pun berlalu begitu saja melewati kami. Setelah merasa aman karena sudah tak terusik olehnya lagi kami pun melanjutkan menikmati alam di dataran tinggi ini.

Papandayan 3

Namun ternyata semua hanya sementara, gumpalan kabut yang lebih pekat segera datang kembali ke arah kami. Kali ini ia tak hanya menumpang lewat, tapi benar-benar menumpahkan cairannya. Seketika dataran luas Tegal Alun pun dibasahi oleh air yang terus-menerus turun. Panik, kami pun segera mengemasi perbekalan kami. Tak lupa jas hujan atau jaket anti air segera kami kenakan sambil melihat sekeliling kami. Ternyata hanya ada kami bertiga di sini, segera kami pun berlari meninggalkan tempat yang indah ini.

Papan bertuliskan Tegal Alun pun kami lewati, kini di hadapan kami adalah turunan mamang yang saat naik tadi bernama tanjakan mamang. Bedanya, kali ini kami harus berpacu dengan waktu untuk menuruninya. Karena di belakang kami aliran air semakin deras mengejar kami untuk ikut mengalir ke bawah, dataran yang lebih rendah. Kami pun menuruninya dengan berlari, tak sempat menoleh ke belakang maupun kanan dan kiri. Tujuan kami kali ini hanya satu, secepatnya menuju hutan mati.

hutan mati

Tak dapat aku hindari beberapa kali aku harus jatuh dan merosot ketika menyusuri jalan setapak yang menurun ini. Setelah berjalan agak lama, tak pernah aku rasakan sebahagia ini bertemu dengan pohon-pohon yang tampak bagaikan sudah mati. Kini kami telah tiba di Hutan Mati, seolah semua sedang menyapa dalam sepi, beberapa pendaki terlihat sedang mencari saung tempat untuk bernaung. Kini aliran air sudah tak mengejar kami, tapi kami tetap harus bergegas untuk segera menuju ke Pondok Salada menyiapkan kemah kami kembali agar bisa kami tiduri ketika malam nanti.

Cuaca yang mendung dan gelap ditambah dengan kabut yang berlomba untuk menjadi selimut membuat jarak pandang kami menjadi bias. Jalur yang kami lewati sebelumnya seolah tersamarkan oleh derasnya hujan yang turun. Semua yang ada di sekitar kami tampak sama, pohon mati. Terpaksa harus ku tunda kegembiraan ku ketika berjumpa lagi dengan hutan mati tadi. Berjalan pelan sambil mengingat dan mencoba jalur ternyata membuahkan hasil yang bisa dibilang mujur.

hutan mati

Kini kami dapat melihat Pondok Salada dari kejauhan, posisi kami dari tempat itu hanya dibatasi oleh tanah berlumpur yang terendam air. Segera kami seberangi tanah berlumpur itu tanpa peduli mana yang dangkal atau yang dalam. Setelah bersusah payah, tibalah kami di dekat tenda kami sambil terengah-engah. Kucopot jaket dan celanaku, karena seketika hujan pun berhenti seolah cukup bagi ia untuk mengantarkan kami dari atas hingga ke perkemahan ini. Kujemur semua yang melekat dan basah di tubuhku sambil hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang dilapisi dengan kain sarung.

Bodohnya aku tak membawa jaket atau pun celana hangat lain, hingga aku harus mencoba melawan dingin hingga akhirnya senja datang dan berganti dengan sang malam. Namun, sangat disayangkan pesona malam ini belum dapat menggugahku. Bintang indah yang kuharapkan menghiasi langit malam tak dapat aku nikmati karena awan mendung masih bernaung di atas sana. Terpaksa aku isi malam ini dengan berkumpul bersama kawan sambil memasak air hangat dan menyeduh cangkir kopi ku agar badan bisa terasa lebih hangat. Cerita pun mengalir begitu saja bergantian oleh kami, dari kami, untuk kami. Hingga kantuk pun datang dan kami pun masuk ke dalam tenda untuk memejamkan mata.

Namun, sulit rasanya untuk memejamkan mata, ketika aku kembali membayangkan apa yang sudah aku lalui dalam satu hari ini. Hingga bayangan ku pun sudah berganti menjadi mimpi tanpa aku sadari, yang aku ingat hanya hujan yang turun lagi ketika kesadaranku yang terakhir masih menguasai otak ini. Mimpi yang aku alami membuatku membuka mata dan segar seketika, aku dengar hujan sudah berhenti sedari tadi. Kulihat sekitar dan tampak teman-temanku masih tertidur pulas. Aku tak bisa berdiam di dalam tenda, lalu aku putuskan untuk keluar dan berharap bahwa hujan sudah benar-benar berhenti.

Aku buka pintu tenda yang ada di hadapan ku dan semua tampak gelap, hanya beberapa tenda yang berwarna cerah yang dapat kulihat di kejauhan. Kuambil senter untuk menerangi sekitarku, refleks aku lihat ke arah langit saat seluruh tubuhku sudah keluar dari tenda. Tak dapat aku berkata-kata saat itu, hanya mulut yang terbuka menganga menikmati indahnya lukisan Yang Maha Kuasa di atas langit sana. Seolah setiap bintang yang membentuk rasi dapat aku jelajahi dari bawah sini. Hingga tanpa aku sadari, sayup sayup kudengarkan,

Cause you're a sky, 'cause you're a sky full of stars
I'm gonna give you my heart
'Cause you're a sky, 'cause you're a sky full of stars
'Cause you light up the path
'Cause you're a sky, you're a sky full of stars
Such a heavenly view
You're such a heavenly view

Sebuah lagu dari Coldplay - A sky full of stars mengisi malamku saat itu. Tak henti-hentinya mulutku mengucap syukur nikmat untuk melihat sebuah pemandangan yang sangat membuatku terpikat. Satu per satu temanku keluar dari tenda, tak satu pun dari kami dapat beranjak dari tempat kami berdiri. Sesekali kau harus mencobanya kawan! Melihat cahaya bintang tanpa takut terdistorsi oleh polusi cahaya yang telah menelan langit yang ada di kota setiap malamnya. Hingga akhirnya kami sadari bahwa waktu subuh telah datang menghampiri.

Sebagai pertanda kami harus segera menunaikan kewajiban kami beribadah pagi ini. Kemudian kami harus segera siap untuk menyambut sang mentari pagi. Kami susuri jalan yang ada di dalam hutan, seingatku jalan ini akan membawa kami menuju ke pos 2 atau lebih dikenal dengan sebutan Goberhood. Dari sana kami akan menuju ke Bukit Sunrise, di mana kami bisa mengamati langsung sang mentari yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya. Namun, untuk mencapai tempat tersebut diperlukan tenaga extra untuk berjalan melintasi jalur yang berilalang.

before sunrise

Saat itu jam tanganku menampilkan angka 05.47 WIB, kami telah siap menanti sang mentari menunjukkan diri, walaupun saat ini hanya guratan cahaya oranye yang telah mengisi wilayah di sekitar garis cakrawala. Hawa hangat mulai terasa menyentuh kulit ini, pertanda bahwa sebentar lagi san surya akan muncul di hadapan kami. Dan benar saja, tak perlu waktu lama bagi ku untuk melihat kemilau bundarnya yang kekuningan.

bukit sunrise papandayan

Tak terasa telah 90 menit kami menikmati terbitnya matahari pagi ini, kini saatnya bagi kami untuk kembali ke pondok salada lagi. Rasanya masih ingin menikmati semua ini tapi apalah daya kami, sang waktu tak pernah mau untuk menunggu. Kami pun dengan berat hati mencoba melangkahkan kaki kembali. Perjalanan menanjak menuju ke tenda tak membuat semangat kami reda, karena waktu untuk pulang pun kini telah tiba. Kami bereskan semua perlengkapan berkemah kami, dan setelah semua peralatan telah tersusun rapi kami pun berdoa dan segera melangkah turun menuju ke camp david yang ada di bawah.

menyapa mentari

Perjalanan untuk turun terasa lebih mudah dibandingkan saat berangkat kemarin, mungkin juga karena saat itu kami telah merasa bahwa jalur yang akan dilalui sudah pernah kami ketahui. Setelah check-out, maksud saya mencoret daftar kemah yang ada di pos 2, kami pun segera melanjutkan kembali perjalanan menuju ke kawah papandayan. Sungguh tidak kami duga, di sana kami berjumpa dengan rombongan lain yang telah lebih dulu berangkat meninggalkan pondok salada. Kutanya salah satu dari mereka, ternyata ada sebuah masalah yang sedang mereka hadapi. Salah seorang teman dalam regu mereka harus mengambil tasnya yang terjatuh ke dasar jurang di sekitar kawah papandayan, karena tidak sengaja tersenggol.

Perjalanan turun papandayan

Alhasil setelah berjuang cukup keras hingga harus berseluncur di atas batu-batu akhirnya tas tersebut berhasil diambil kembali. Kami pun melanjutkan perjalanan bersama-sama menuju camp david, hingga tiba di area parkir kendaraan. Ada dua hal yang menarik perhatianku saat mendekati area parkiran, pertama adalah toko cinderamata lokal yang menjual kalung dengan bandul berupa kayu yang diukir, dan yang kedua adalah kolam pemandian air panas alami yang ada di sekitar surau.

Tempat yang pertama kuhampiri adalah toko cinderamata, karena aku sangat penasaran dengan bandul kalung yang mereka jual. Bandul tersebut terbuat dari kayu yang mereka ukir menyerupai sehelai daun lengkap dengan tulisan “papandayan” dan yang unik adalah ada dua buah bandul yang berbeda warna. Satu bandul berwarna coklat kekuningan sedangkan satu lagi berwarna coklat kehitaman, tapi aku perhatikan warna tersebut bukan karena diwarnai oleh sang penjual. Lalu karena apa?

Karena penasaran, aku ambil bandul yang berwarna coklat kekuningan dan segera aku berkata pada sang penjual untuk menjadikannya berwarna coklat kehitaman. Ia pun menyanggupi permintaanku, kemudian diambilnya bandul yang kupilih dan membawanya ke luar toko yang berbentuk tenda. Diambilnya pula korek gas dari saku celananya, dan ia nyalakan di dekat bandul tersebut.

Ternyata warna hitam itu ia dapatkan dengan cara membakar bandul kayu tersebut dengan api kecil. Sedikit demi sedikit ia panaskan setiap bagian permukaan bandul sehingga warna hitam kecoklatan menjadi merata di setiap permukaan bandul. Tanpa aku sadari ternyata bandul pesananku itu telah selesai dan aku sangat puas dengan hasilnya.

Selesai mengamati cinderamata, aku pun melanjutkan untuk melihat pemandian air panas. Namun sayang sekali, langit mulai mendung dan sepertinya tak lama lagi akan turun hujan sehingga aku tak sempat masuk dan mencoba pemandiaan air panas alami tersebut, hanya mengamati dari luarnya saja. Dan tak butuh waktu lama bagi sang hujan untuk membasahi seluruh area camp david ini, hingga kami harus berteduh di gubuk-gubuk yang ada di sekitar parkiran. Untungnya segelas teh hangat dan tahu isi yang baru saja digoreng dapat menemaniku menunggu hujan reda.

Saat menunggu hujan itulah seseorang menghampiri kelompokku, ia menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke jalan raya dengan mobil bak terbukanya. Kami pun tak ingin menolaknya, asalkan saat hujan reda ia setuju untuk langsung berangkat. Karena kami pun harus segera mengejar bus terakhir yang menuju jakarta tepat sebelum matahari tenggelam. Ternyata ia menyanggupi, bahkan jika nanti semua penumpang ingin menuju ke terminal guntur ia pun bersedia mengantarkan kami langsung ke terminal.

sayonara papandayan

Tepat saat hujan reda, seluruh calon penumpang diminta untuk naik ke atas mobil bak terbuka dan meletakkan barang bawaan di bagian depan bak mobil. Kami pun duduk satu per satu, dan aku kebagian di posisi buritan bak mobil. Ternyata posisi ini menempatkan ku bersebelahan dengan salah seorang penduduk lokal yang ingin menumpang hingga ke jalan raya. Sebut saja namanya Ujang.

Aku coba untuk mengajaknya bicara dan bertanya pada Ujang, apakah ada tempat lain yang bisa kami kunjungi jika sedang berada di Kota Garut, khususnya di daerah sekitar gunung ini. Ternyata ia pun menjawabnya dengan bersemangat. Ada beberapa tempat yang menarik seperti bumi perkemahan, tempat beristirahat, dan yang paling menarik adalah air terjun teko. Letaknya pun tak jauh dari camp david. Jika objek wisata lain di sekitar kota Garut ia menyebutkan, kawasan wisata darajat, pantai-pantai di Pameungpeuk, serta wisata pemandian air panas Cipanas Garut.

Tanpa terasa di tengah-tengah ceritanya, ternyata Ujang harus segera turun dan kami pun akhirnya berpamitan. Saat itu pula sang supir mobil bak menawarkan untuk mengantar kami langsung ke terminal. Kami pun menyetujui karena pikir kami hari sudah mulai sore dan kami harus segera menuju ke terminal. Namun, tak selamanya sebuah keputusan mendadak itu berbuah manis. Baru berjalan sekitar 10 menit, tiba-tiba hujan turun kembali dan membuat semua penumpang di bak terbuka menjadi kalang kabut. Secepat mungkin kami mencoba untuk menutup bak mobil dengan terpal plastik dan setiap orang di bawah terpal berusaha untuk memeganginya agar tidak terbang ditiup angin serta mencegah agar badan dan barang bawaan kami tidak basah terkena hujan.

jalan pulang ke terminal

Hampir setengah perjalanan kami diisi dengan mengobrol di bawah terpal karena di luar terpal hujan masih turun dengan deras. Hingga saat suara kucuran air sudah mulai mereda, kami pun membuka terpal. Lucunya saat kami membuka terpal, ternyata di bagian belakang mobil kami tampak sebuah mobil SUV hitam yang berisi dua orang wanita yang masih muda. Mereka tertawa saat melihat kami membuka terpal dan mendapati bahwa di atas bak mobil di depan mereka tampak 15 orang yang sedang melipat terpal plastik.

Bukannya malu atau risih kami malah balik memperhatikan mereka sambil beberapa orang rekan semobilku menggoda mereka dengan melambaikan tangan dari jauh. Hingga tidak terasa kami sudah hampir sampai di terminal guntur. Turun dari mobil aku pun mengajak teman ku untuk membeli oleh-oleh, karena yang aku tau tidak afdol jika pulang dari Kota Garut tapi tidak membawa oleh-oleh dodol yang merupakan kuliner khas kota ini. Dan tidak lupa aku pun membeli chocodot, apa itu chocodot?

Chocodot adalah gabungan antara coklat dan dodol, unik rasanya, dan yang lebih unik lagi adalah kemasan yang produsen buat untuk membungkus chocodot ini.

via www.1001wisata.com

Tak terasa mencari oleh-oleh ternyata membuat kami lapar, akhirnya kami pun mampir di sebuah warung makan prasmanan sunda. Enaknya makan di sini adalah cukup dengan 15 ribu rupiah kami sudah bisa makan 4 sehat, jika ingin menjadi 5 sempurna cukup menebus segelas susu hangat dengan biaya tiga ribu rupiah lagi.

Kini waktu sudah hampir petang dan kami harus segera mencari bus yang menuju ke Jakarta. Berarti pula kami harus meninggalkan kota ini, tempat yang juga sering disebut dengan Swiss van Java, karena memiliki banyak gunung di sekitarnya. Kota yang dikenal dengan dodolnya. Kota yang juga dikenal dengan pemandian air panas alaminya, kota yang menjadi salah satu kampung halamanku.
Sampai jumpa lagi Kota Garut. Sang Swiss van Java.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
lembah
Gunung Papandayan, Senin siang, saat kami melakukan perjalanan menuju ke sebuah tanah lapang.

Berjalan kaki sekitar 45 menit menyusuri hutan kini harus diakhiri, karena sebentar lagi kami akan tiba di sebuah tanah lapang yang sudah dipenuhi oleh beberapa tenda berwarna-warni. Pondok Salada namanya, kami sendiri belum dapat memahami kenapa tempat ini disebut dengan nama Pondok Salada, apa mungkin di sini banyak terdapat sayuran bernama selada?

Entahlah, yang pasti sepanjang perjalanan menuju tempat ini kami tak henti-hentinya untuk terpana. Melihat indahnya bukit dan dataran yang kini ada jauh di bawah. Kini sebuah papan berwarna hijau dengan tulisan “Pondok Saladah, Camp Area” telah menyambut kami, berarti pula bahwa saat melewati tulisan tersebut kami akan memasuki area perkemahan. Sebenarnya hal mendesak yang harus dilakukan selanjutnya adalah memilih lokasi strategis untuk mendirikan tenda. Namun. Kami lebih memilih untuk menikmati pemandangan di sekitar. Lapangan landai yang cukup luas dan dikelilingi oleh dataran tinggi berwarna hijau membuat kami enggan untuk beranjak dari tempat kami berdiri.

papandayan 3

Satu hal yang menurutku unik adalah terdapat beberapa bangunan yang berupa saung didirikan di sana. Ternyata itu adalah warung-warung yang akan digunakan oleh para pedagang untuk menjual minuman dan makan hangat pada saat akhir pekan atau saat jumlah pendaki sedang banyak. Saat ini aku lihat ada sebuah warung yang sedang buka, dan Nampak pula di sana sang pedagang sedang menyiapkan kayu bakar untuk membuat kompor tradisional.

pondok saladah

Sadar bahwa waktu dzuhur akan segera tiba, kami pun harus segera memutuskan di mana lokasi terbaik untuk membuat tenda. Setelah beberapa kali memilih tempat, akhirnya kami pun menggunakan area yang berada dekat dengan pepohonan yang berhimpitan dengan perbatasan antara tanah lapang dan hutan. Pertimbangannya agar pepohonan dapat menahan laju angin sebelum menerpa tenda kami, serta diharapkan pepohonan dapat pula menahan air yang jatuh ke arah atap tenda apabila sedang turun hujan.

Setelah berlelah-lelah medirikan tenda dengan susah payah, akhirnya tenda dome dengan ukuran mini berkapasitas dua orang sudah siap untuk dipakai oleh tiga orang. Bukannya kami mulai memasukkan barang-barang ke dalam tenda, saat itu kami malah asik duduk-duduk di depan tenda sambil memasak air, menyeduh sereal dan mengeluarkan Guitalele (gitar mini) untuk mengiringi lagu yang akan kami nyanyikan.

camp ceria

Matahari kini sudah hampir sampai ke posisi puncaknya, sebentar lagi waktu dzuhur akan tiba pula. Jika ingin summit (mencapai puncak gunung), kami harus segera bersiap-siap untuk beribadah dan menyiapkan perbekalan untuk pergi ke Tegal Alun dan Puncak Papandayan. Satu persatu barang yang bisa ditinggalkan di dalam tenda kami posisi kan dengan rapi. Kini kondisi dalam tenda sudah rapi dan siap untuk ditinggal pergi, sementara kami bertiga langsung beranjak untuk segera ke mushola terdekat.

Sesampainya di kawasan mushola, lagi-lagi diriku dibuat takjub. Ternyata mushola di kawasan Pondok Salada cukup dirawat dengan baik, bangunannya terbuat dari kayu yang dibangun berbentuk pondok. Di dekatnya terdapat pipa yang dialiri air untuk kegiatan mencuci, mengambil air, dan bersuci. Sambil mengamati tempat wudhu, aku arahkan pandangan ke kanan. di sana terdapat sebuah toilet umum yang cukup bersih, dan pastinya BOKER-ABLE (layak dipakai BAB)

mushola papandayan

Sekarang semua kewajiban telah kami lakukan, saatnya melanjutkan petualangan. Untuk menuju ke Puncak Papandayan, kami telah diberi informasi untuk mengikuti jalur menuju ke arah kawasan Hutan Mati, kemudian ke Tegal Alun, baru melanjutkan perjalanan ke arah Puncak Papandayan. Saat itu kami cukup kesulitan untuk mencari jalur dari perkemahan menuju ke kawasan Hutan Mati, akhirnya kami memutuskan untuk menyebrangi jalan tanah yang berlumpur dan berair. Ternyata di seberang tampak pula beberapa petualang yang sedang berjalan menuju ke perkemahan.

Saat berada di tengah jalan berlumpur akhirnya rombongan kami berpapasan dengan rombongan mereka. Kami pun mencoba bersikap sopan dengan mempersilakan mereka untuk terus berjalan lurus, sedangkan kami berjalan dengan sedikit bergeser ke arah kanan. Tepat saat kami baru menyapa mereka, saat itu pula di depan ku terdapat sebuah kubangan yang ku kira dangkal. Aku langkahkan kaki ku, dan ternyata kaki ku terperosok masuk ke dalam kubangan yang ternyata dalam.

Celana ku langsung basah dari ujung bawah hingga ke bagian paha, beberapa dari mereka langsung mencoba untuk menolong dan mengangkat ku. Saat itu rasanya lebih besar
kemaluanrasa malu ku daripada rasa menyesal karena celana ku basah dan penuh lumpur. Akhirnya aku pun mencoba untuk membersihkan celana ku sambil menertawai kejadian yang barusan aku alami bersama Rick dan Dzi. Saat itu pula aku sadari di dekat ku mencuci kaki terlihat Pohon Edelweiss, Anaphalis javanica yang sedang berkembang.

Pohon Edelweiss, Anaphalis javanica

Perjalanan segera kami lanjutkan kembali, sekarang kami mulai berlomba untuk menemukan pita berwarna merah, biru, atau oranye yang terikat di dahan pohon. Tanda yang diikatkan di dahan itu berarti jalur yang kami lalui sudah tepat, sehingga bila kami tidak menemukan pita berwarna yang terikat di pohon berarti kami harus kembali untuk mencari lagi di jalur sebelumnya.

Sudah 60 menit kami berjalan kaki, kini kami mulai memasuki wilayah Hutan Mati. Sebuah tempat yang bertanah kapur dengan warna putih pucat dan terdapat pohon-pohon hitam tanpa daun yang tertancap di sekitarnya. Semuanya terlihat sama, jika kita tidak mengingat jalur yang kita lewati bisa tersesat kita dibuat olehnya. Pemandangan ini sangat mirip dengan hutan-hutan seram yang sering digambarkan pada film kartun. Namun, suasana yang terkesan penuh misteri dan mistis ini justru bagiku terasa sangat eksotis. Bersyukur bisa menikmati berbagai macam jenis lingkungan yang ada di Papandayan.

Hutan Mati Papandayan

"Kalian tau kenapa Hutan Mati bisa seperti ini?", tanya Dzi pada ku dan Rick.
Aku dan Rick menggeleng bersamaan.
"Kira-kira lebih dari 2oo tahun yang lalu Gunung Papandayan pernah mengalami bencana hebat, tepatnya pada Agustus tahun 1772. Gunung ini meletus dengan dahsyat tanpa peringatan, menyebabkan sekitar 40 desa di sekitarnya terkubur dan lebih dari 3000 penduduk beserta hewan-hewan ternaknya terhisap ke dalam danau vulkanik. Lee Davis pernah menuliskan catatannya dalam buku, Natural Disaster. “No day of judgment painted by Angelo or Dore could ever match that actual horror of the solid mountain sinking into the earth with human beings on its slopes—its huge bulk going down as a ship goes down into the deep.” kira-kira seperti itu ceritanya", ucap Dzi menjelaskan.
"Berarti pohon ini kehilangan daun-daunnya karena bekas terkena erupsi ya.", ujar ku menambahkan.
"Pantesan aja warna pohonnya jadi agak hitam.", ucap Rick sambil melajutkan perjalanan kembali.

hutan mati papandayan 2

Sekarang Hutan Mati telah berada di belakang kami, hanya ada jalan yang menanjak menanti kami saat ini. Jalur yang harus kami lalui untuk menuju ke Tegal Alun. Kucoba untuk memperhatikan jalur di depan sambil berhenti untuk istirahat. Sepertinya jalan yang akan kami lalui cukup menanjak dan cukup terjal. Tampak beberapa undakan yang tingginya sama dengan pinggangku, mungkin sekitar 80 cm dari tanah tempatku berpijak.

Tepat saat berjalan menelusuri jalur yang menanjak tersebut, seketika kabut mulai turun membuat jarak pandang menjadi terbatas. Saat itu pula tercium bau khas yang akan tercium jika memasuki wilayah gunung berapi aktif, bau belerang. Aku rasakan jantung mulai berdegup 3 kali lebih kencang dari biasanya, tapi kami tetap berjalan pelan-pelan.

jalur sebelum tegal alun

Akhirnya setelah lebih dari satu jam berjalan dari Hutan Mati, kami pun tiba di sebuah kawasan yang berupa dataran yang sangat luas dan dipenuhi oleh Pohon Edelweiss, Anaphalis javanica yang sedang berkembang. Tegal Alun namanya. Semua rasa lelah dan rasa jenuh ketika melewati tanjakan pun seketika sirna saat melihat hamparan padang edelweiss yang luas ini. Kami pun tak menyia-nyiakan waktu untuk segera menjelajahinya.

tegal alun

Sementara ini kami hanya ingin  menikmati saja semua yang ada di sini, karena benar rasanya sebuah kalimat yang berkata, semua akan indah pada waktunya. Serta Imam Asy-Syafi’i yang berkata bahwa Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang!

aku di tegal alun papandayan

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

#30HBC1805 #30HariBercerita

Menulis
Mungkin terdengar melankolis, puitis, atau romantis.
.
Tapi sejak dulu saya ingin sekali dapat menulis dengan baik dan benar. Lebih tepatnya menulis hal yang bermanfaat. Agar suatu saat saya dapat membacanya lagi dan teringat bahwa pernah ada karya yang terukir oleh tangan pemberian Tuhan ini.
Saya percaya bahwa segala hal yang kita bagikan, baik itu berupa ucapan, tulisan, atau apa pun kepada orang lain. Tidak akan membuat kita kehilangan sesuatu. Justru semua itu membuat apa yang kita bagikan makin melekat pada diri kita. Mungkin tidak kita sadari secara langsung. Karena pengulangan hanya akan terasa saat telah menjadi kebiasaan.
.
Lalu saya jadi teringat
ucapan salah seorang penulis yang saya kagumi.
"Penulis yang baik itu sebenarnya adalah pembaca yang baik pula. Coba buktikan! Membaca tulisan orang lain itu sebenarnya kita sedang menabung dan mengumpulkan berbagai pemikiran dan karya. Hingga nanti saat apa yang kita kumpulkan sudah banyak dan kita tak kuat lagi menampungnya, salah satu cara untuk mengeluarkannya adalah dengan menulis. Dan kita pun akhirnya dapat menulis. Harus menulis lebih tepatnya. Untuk melepaskan apa yang selama ini kita simpan untuk diri sendiri saja."
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

camp david

Garut, Senin dini hari, saat bulan bersinar terang setelah hujan berhenti, saat pagi segera ia akan berganti dengan matahari.

Sebuah gapura besi menyambut ramah di antara kegelapan. Lalu kami pun segera turun dari mobil tua ini dan menuju ke emperan. Halaman sebuah toko yang sedari tadi sudah tidak mempunyai aktivitas dan kesibukan. Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Camp David, pos pendakian Gunung Papandayan saat adzan subuh telah berkumandang, tapi tawaran para supir mobil pickup yang mengatakan bahwa ada sebuah mushola yang dapat di gunakan di atas sana membuat kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu sebuah mobil bak terbuka telah diisi oleh 15 tas ransel berkapasitas 60 Liter dan 15 orang pendaki yang semuanya belum pernah menjelajahi gunung ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

#30HBC1804 #30HariBercerita

Tenggelam atau terbit
Bedanya hanya sedikit
Tapi saya selalu suka
Saat-saat cahaya
Datang
Dan hilang
.
Jadi teringat cerita tentang bagaimana hubungan saya dengan fajar dan senja. Sejak kecil saya selalu suka bermain di luar rumah, jika sudah bermain saya akan lupa untuk pulang. Satu-satunya kejadian yang selalu membuat saya ingat untuk pulang adalah senja. Karena bagi saya pada waktu itu, senja adalah gerbang penghubung siang dan malam. Saat transisi itu disebut juga magrib. Bagi anak kecil seperti saya, waktu magrib adalah saat yang menakutkan. Banyak cerita yang telah didoktrinkan sehingga membuat kami yang masih kecil ini tidak berani ada di luar rumah saat senja menjelang. Tetapi setelah kupikir-pikir justru hal itu yang menjadi alarm alami untuk pulang. Sebelum pulang ke rumah saya selalu sempatkan memandangi matahari hilang perlahan dari atas gundukan batu koral yang ada di toko material dekat rumah.
.
Beranjak dewasa, saya pun bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pekerjaan saya waktu itu sering kali diminta untuk selesai dalam waktu kurang dari 24 jam. Memang industri ini memiliki ritme siklus yang sangat cepat, karena waktu berhubungan erat dengan uang yang akan dikeluarkan. Tak jarang saya bekerja hingga harus menginap di workshop. Malam hari orang-orang dituntut untuk tetap produktif menyiapkan peralatan yang besok paginya sudah harus dikirimkan ke lokasi bekerja. Pada saat-saat seperti ini saya jadi berteman akrab dengan fajar. Setiap kali saya bekerja dari malam hingga pagi menjelang, saat-saat matahari terbit tidak pernah saya lewatkan dari rooftop atau lantai teratas workshop. Menyaksikan fajar menyingsing menjadi relaksasi tersendiri bagi saya dalam memulai hari.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

#30HBC1803 #30HariBercerita

Banyak cara orang untuk
Naik dan menanjak
Menyusuri setapak demi setapak
Jalan hidupnya yang tak tertebak
.
Tetapi bagaimana cara kita menanjak?
Banyak pilihan untuk dilakukan
.
Saya jadi teringat cerita
saat menanjak Gunung Papandayan
.
Dari basecamp yang biasa disebut "camp david"
Kami sudah menggendong ransel masing-masing
Semua ikatan dikencangkan
Alas kaki disesuaikan agar nyaman
Karena kami tau bahwa menanjak itu perlu persiapan
Dan jalan yang dilalui tak akan
Penuh dengan kemudahan
.
Sekian lama menanjak di medan jalan berbatu membuat kaki terasa pegal dan kencang
Yah itu lah nikmatnya menanjak
Proses ini sebenarnya yang menjadi candu para pendaki atau penanjak
Menikmati perjalanan
.
Tapiiiiii
Tiba-tiba dari arah bawah
Dengan mudahnya ada seseorang 
Yang menanjak menggunakan
Motor Trail
Hahahahaha, sungguh keadaan yang mencengangkan
.
Kami dengan susah payah menanjak
Dia dengan mudahnya sampai di sini tanpa keringat
.
Apa kami kecewa?
Apa kami iri?
Apa kami putus asa?
Tentu tidak
Karena proses yang membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya
.
Hasil menanjak dengan kaki
Dan hasil menanjak dengan roda
Tentu akan berbeda rasa pengalamannya
Berbeda ilmunya
.
Tapi kapan-kapan boleh juga tuh nyoba naik gunung pake motor trail
Hahahahahahaha
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me



RENDY KAMIL

is an Indonesian Explorer
interest with Photography & Videography
'Cause
"Your Life is Only Real When Shared"
instagram.com/rendykamil
youtube.com/rendykamil
You are here with
Travellers

Follow Us

Labels

30HariBercerita Celoteh Cerita Garut Gunung Papandayan Perjalanan Puisi Pulau Cipir Pulau Kelor Pulau Onrust Pulau Seribu Travel Guide Travel Story

Popular Posts

  • PERJALANAN
    Aku sendiri tidak tau pasti kapan tepatnya aku mulai menyukai kata “ Perjalanan ”. Mungkin semua itu dimulai sejak aku akhirnya terbias...
  • Jelajah 3 Pulau : Pulau Kelor
    PULAU KELOR : Garis Depan Penahan Teror Milik VOC Yang Terkenal Horror (3 in 1) DKI Jakarta, Jakarta Selatan, tepat saat aku sedan...
  • SYAIR PERJALANAN
    MERANTAULAH (Syair Imam Asy-Syafi’i) ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﻟـﺬﻱ ﻋﻘـﻞٍ ﻭﺫﻱ ﺃﺩﺏٍ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﺔ Orang berilmu (pandai) dan beradab tidak a...
  • Gunung Papandayan : Setiap Tujuan Harus Selalu Diperjuangkan! (2/4)
    Garut, Senin dini hari, saat bulan bersinar terang setelah hujan berhenti, saat pagi segera ia akan berganti dengan matahari. Sebua...
  • Gunung Papandayan - Walau Terasa Sulit, Usahakan Untuk Summit! (3/4)
    Gunung Papandayan, Senin siang, saat kami melakukan perjalanan menuju ke sebuah tanah lapang. Berjalan kaki sekitar 45 menit menyusur...
  • 30 Hari Bercerita : Menulis
    #30HBC1805 #30HariBercerita Menulis Mungkin terdengar melankolis, puitis, atau romantis. . Tapi sejak dulu saya ingin sekali d...
  • 30 Hari Bercerita : Terbit Tenggelam
    #30HBC1804 #30HariBercerita Tenggelam atau terbit Bedanya hanya sedikit Tapi saya selalu suka Saat-saat cahaya Datang Dan hi...
  • 30 Hari Bercerita : Jatuh
    #30HBC1802 #30HariBercerita Jatuh dan tersungkur Terpuruk hingga menunduk Membuat suasana semakin buruk Rasanya tak mungkin ...
  • Gunung Papandayan : Jangan Hanya Termenung! Ayo Pergi Ke Gunung! (1/4)
    DKI Jakarta, Minggu pagi, aku sendiri tidak dapat mengingatnya dengan detail, tetapi masih di bulan-bulan awal tahun 2015. Semua in...
  • Goodbye, Welcome !
    Ga kerasa tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti menjadi tahun 2018. Banyak hal yang terjadi sejak bulan pertama hingga bulan ...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (9)
    • ▼  January (9)
      • Travel Guide : Perjalanan Menuju Papandayan
      • Gunung Papandayan : Setiap Perjalanan Pulang, Sela...
      • Gunung Papandayan - Walau Terasa Sulit, Usahakan U...
      • 30 Hari Bercerita : Menulis
      • Gunung Papandayan : Setiap Tujuan Harus Selalu Dip...
      • 30 Hari Bercerita : Terbit Tenggelam
      • 30 Hari Bercerita : Naik
      • 30 Hari Bercerita : Jatuh
      • 30 Hari Bercerita : Awalan
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (8)

Google+

Unknown
View my complete profile

Search This Blog

FOLLOW ME @INSTAGRAM

by Rendy Kamil and R