Powered by Blogger.
  • Home
  • Travel Guide
  • Travel Story
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Puisi
  • Celoteh
  • About
  • Contact

RendyKamil

facebook google twitter tumblr instagram linkedin
penawisata.blogspot.com
Travel Guide : Pergi Ke 3 Pulau Dalam 1 Hari (3 in 1)
Sebagai warga Kota Jakarta, wilayah Kepulauan Seribu tentu sangatlah mudah dijangkau. Namun, terkadang kendalanya adalah kurangnya informasi atau kurangnya keinginan kita sendiri untuk mencari tau berbagai cara untuk sampai ke sana. Padahal wilayah tersebut telah siap sedia menawarkan berbagai pesonanya. Kali ini daerah yang saya datangi adalah Taman Arkeologi Onrust, Cipir, dan Kelor. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang mungkin berguna bagi anda :
Onrust Kelor Cipir Bidadari
Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Taman Arkeologi Onrust, Cipir, dan Kelor.
  • Mengikuti Open Trip yang sering dibuka oleh penyedia jasa perjalanan, total biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah daripada kita pergi sendiri. Namun kekurangannya kita akan terikat oleh jadwal yang diberikan oleh pemandu. Biasanya biaya yang ditawarkan berkisar antara Rp 100.000 - 150.000 per orang.
    • Bisa dilihat dan dicari di sini
  • Melakukan perjalanan sendiri, tipe ini sangat cocok untuk kita yang lebih ingin bebas dalam bepergian. Namun, biaya yang dikeluarkan bisa lebih mahal tergantung jumlah orang yang ada.
Terdapat beberapa pelabuhan yang menyediakan transportasi air untuk ke sana, yaitu :
  • Pelabuhan Marina, Taman Impian Jaya Ancol
    • Dari pelabuhan ini bisa dilanjutkan dengan menaiki speedboat menuju Pulau Bidadari dengan harga Rp 300.000-500.000 per orang, pulang pergi.
    • Jika kita menginap di Pulau Bidadari, pengelola pulau terkadang menyediakan transportasi untuk penjemputan.
    • Dari Pulau Bidadari menuju ke Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor dapat menggunakan kapal-kapal kayu yang menawarkan paket keliling pulau-pulau tersebut dengan biaya Rp 50.000-150.000 per orang.
pict from onisetiyabudi.blogspot.co
  • Pelabuhan Muara Angke / Pelabuhan Ancol
    • Dari sini kita bisa menyewa kapal untuk ke pulau-pulau tersebut dengan kisaran harga antara Rp 700.000-2.000.000 per hari, tergantung jenis kapal.
    • Alternatif kedua, kita bisa naik kapal transport berkapasitas lebih dari 100 orang dari Pelabuhan Muara Angke yang akan menuju ke Pulau Untung Jawa dengan harga tiket Rp 25.000 atau Kapal Kerapu dari Pelabuhan Ancol dengan harga tiket yang Rp 25.000-50.000
    • Dari Pulau Untung Jawa, kita dapat menyewa kapal untuk pergi ke Pulau Onrust dengan kisaran harga Rp 50.000-150.000 per orang
pict from wisata-murah-pulau-seribu.blogspot.co
  • Pelabuhan Kamal Muara
Karena telah banyak informasi di dunia maya untuk mencapai Pelabuhan Marina dan Pelabuhan Muara Angke, maka saya hanya akan membahas secara mendetail transportasi menuju ke Pelabuhan Kamal Muara saja.
8
Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Pelabuhan Kamal Muara dengan menggunakan beberapa moda transportasi umum seperti :
  • Kereta Listrik (KRL) yang siap membawa kita dari kota asal hingga sampai di Stasiun Angke. Daftar kereta api yang menuju ke Stasiun Jakarta Kota dapat dilihat di sini.
    • salah satunya adalah KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota, cukup mengeluarkan uang sebesar 2500-5000 rupiah untuk menebus tiket kereta, kita sudah bisa menjangkau tempat ini dari stasiun terdekat di daerah kita tinggal
    • Dilanjutkan dengan menaiki angkutan kota bernomor 06 yang berwarna merah menuju arah Pelabuhan. Lalu dari tempat pemberhentian kita dapat berjalan kaki atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
    • Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupua mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000
www.semboyan35.com
  • Bus dari Terminal Besar Kota Jakarta
    • Kita bisa menggunakan Kopaja B 86 Jurusan Lebak bulus – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M53 Jurusan Pulogadung – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M41 Jurusan Grogol – Stasiun Kota, turun di Perempatan Cengkareng.
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M39 Jurusan Pasar Senen – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M08 Jurusan Tanah Abang – Stasiun Kota
    • Dilanjutkan dengan :
    • Menggunakan Angkutan KWK B06 Jurusan Kota – kamal
    • Lalu dari tempat pemberhentian kita dapat berjalan kaki atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
    • Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupua mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000
wartakota.tribunnews.com
  • Bus Transjakarta koridor 3(Kalideres – Pasar Baru), turun di Halte Rawa Buaya.
    • Kita juga bisa menggunakan Bus Transjakarta dari koridor lainnya dan melakukan transit di halte Harmoni.
    • Dari Halte Rawa Buaya, Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupa mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000 atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
4.jpg
Dari Pelabuhan Kamal Muara kita dapat menyewa kapal dengan kisaran harga Rp 300.000 – 700.00 per hari untuk keliling pulau-pulau yang ada di sekitar sana.
Beberapa Pulau yang dapat disinggahi setelah berlayar dari Pelabuhan Kamal Muara :
  • Pulau Onrust
1
  • Pulau Cipir
1
  • Pulau Kelor
0a.jpg
  • Pulau Bidadari
liputanspkanakmuda.blogspot.com
  • Pulau Untung Jawa
penawisata.blogspot.com
  • Pulau Rambut
Harga tiket masuk setiap pulau pun berbeda-beda mulai dari Rp 5.000
Disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman untuk menghemat pengeluaran. Namun, jangan lupa untuk membeli es kelapa muda yang di jual di warung yang ada di Pulau onrust. Segarnya air kelapa mampu mengenyahkan dahaga sembari kita duduk santai di pinggir pantai.
Bagi anda yang sering mabuk laut, diharapkan membawa obat-obatan anti mabuk.

Sungguh sangat disayangkan bila kita belum sempat menjelajahi Pulau yang kaya akan sejarah pada masa lampau, karena pengalaman dan sejarah yang ditawarkan terlalu menarik untuk kita lewatkan. Semoga ini semua dapat menginspirasi kita untuk lebih sering mempelajari sejarah dan menjelajahi peninggalan sejarah di Kota tempat kita tinggal.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan cerita kedua saya yang berbentuk novel / cerpen / cerbung pada postingan-postingan sebelumnya. Semoga ini semua menjadi langkah baik untuk memulai kenginan saya untuk dapat aktif berbagi pengalaman dalam bentuk cerita dan dilanjutkan dengan bentuk laporan perjalanan.

Terima kasih telah sudi membaca tulisan-tulisan saya.
Jakarta selatan, Suatu pagi yang cerah di hari Jumat.

Images & Informations : koleksi pribadi, jakarta.go.id, wikimedia.org, etc.
Location : Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pulau Cipir : Hadiah Yang Tak Pernah Terpikir  Saat Perjalanan Hampir Berakhir (3 in 1)
Pulau Cipir, DKI Jakarta, Saat matahari semakin condong ke arah barat dan kapal akan segera merapat.

Pulau Cipir adalah tujuan perjalanan kami yang terakhir, karena setelah mampir semua keseruan ini akan segera berakhir. Namun kami tidak lagi khawatir, tempat ini menyambut kami dengan hamparan pasir. Putih warnanya di setiap butir berbaur dengan ombak yang terus mengalir. Hingga aku pun ingin segera bermain air, untuk menyegarkan badan ku yang pegal setelah berplesir.
Sesaat setelah kami turun dari kapal, trip leader ku mengatakan bahwa kami punya waktu yang cukup lama untuk bersantai di sini. Karena kami akan kembali ke Pelabuhan Muara Kamal saat menjelang petang. Di pulau ini lebih banyak pula area yang berpasir dibanding dua pulau sebelumnya sehingga jika ingin bermain-main pasir atau sekedar membasahkan kaki dengan air laut lebih nyaman untuk dilakukan. Ada beberapa kamar mandi umum yang dapat kita gunakan untuk membilas badan yang kotor dan berpasir. Bila merasa lapar setelah bermain air terdapat pula sebuah warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat untuk mengisi perut.
2
Rasa pegal di kaki membuat kami lebih ingin duduk-duduk santai di tepian pantai. Namun, suasana pantai dekat dermaga yang ramai oleh pengunjung membuat kami merasa area itu bukan tempat yang pas untuk istirahat. Saat itu warung pun sedang ramai dipenuhi oleh para pembeli yang sudah datang mendahului kami. Akhirnya kami berjalan lagi menyusuri jalur utama yang ada di sini hingga tiba di pantai yang ada di bagian belakang pulau. Di tempat itu terdapat lebih sedikit pengunjung di banding bagian depan pulau dan mereka juga tampaknya sedang duduk-duduk santai atau beberapa dari mereka sedang merebahkan diri di atas pasir. Setelah mencari tempat yang cukup rata dan nyaman untuk diduduki, kami berempat segera menjatuhkan diri di sana.

Menikmati semilir angin sambil meluruskan kaki sungguh nikmat rasanya. Sesekali aku memperhatikan dua orang anak kecil yang sedang membuat gundukan pasir, entah apa sebabnya aku pun tersenyum kecil memandang mereka. Mungkin ekspresi mereka yang lugu sambil sesekali tertawa saat tau bahwa pasir yang mereka tumpuk ternyata kembali terseret ombak tapi segera mereka kumpulkan lagi. Sedikit demi sedikit mereka kumpulkan kembali pasir yang sempat hanyut hingga menjadi gundukan pasir yang besar. Hingga saat ombak kembali menyeret pasir yang menggunung itu ke arah laut lagi, mereka tidak khawatir karena masih banyak persediaan pasir di gundukan itu.
ocehandadi.blogspot.com
Rasanya seperti aku diajari oleh kepolosan mereka saat itu, bagaimana caranya untuk tetap ikhlas dan tidak berhenti berusaha walaupun semua yang telah kita kumpulkan diseret kembali oleh ombak ke tempatnya semula. Bukan ekspresi kesal atau kecewa saat pasir mereka dicuri oleh sang ombak, tapi senyum dan tawa yang seolah menantang sang ombak untuk jangan sekali-sekali berani mengambil apa yang telah mereka kumpulkan. Karena jika ombak mengikis gundukan pasir mereka sebanyak satu kepalan tangan maka mereka akan mengambil lagi pasir yang hanyut sebanyak dua kepalan tangan.

Senyum yang terpampang di muka ku saat itu adalah ungkapan ekspresi bahagia seperti saat para ilmuan penemu berhasil menemukan suatu hal yang baru, lalu mereka pun akan berkata “Eureka, aku menemukannya!” sambil tersenyum kecil. Kira-kira seperti itu. Perasaan ku bahagia saat itu, menemukan hal baru yang menambah kemampuan ku untuk jadi lebih bijaksana. Pelajaran yang mereka berikan tentang bagaimana kita harus tetap ikhlas saat sesuatu yang sudah susah payah kita kumpulkan tiba-tiba tanpa aba-aba diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki. Karena sejatinya memang semua yang kita kumpulkan adalah milik-Nya.

Kesal dan marah mungkin wajar saat apa yang kita punya diambil, tapi bukankah anak-anak kecil itu memperlihatkan padaku bahwa jika senyum dan tawa lebih membuat kita bersemangat saat mencoba mengumpulkan kembali apa yng telah hilang. Yah, jika aku ingin berdalih aku bisa saja berkata bahwa aku sudah tak sepolos mereka. Mereka mungkin masih lugu, makanya belum terlalu dapat merasakan apa yang dinamakan KEHILANGAN, segalanya lenyap padahal semua itu sudah sedari lama kau perjuangkan.

Setelah kupikir-pikir ternyata memang benar itu semua hanya dalih, kesempatanku satu-satunya untuk berkelit dan mempertahankan egoku. Padahal jika mau jujur sejatinya aku iri pada mereka, Karena mereka punya sesuatu yang sudah tidak ada lagi dalam diriku. KEPOLOSAN, KELUGUAN, APA ADANYA. Semua kata itu adalah sesuatu yang sebenarnya yang sudah diambil dariku tanpa aku sadari. Sehingga aku pun kecewa saat sesuatu yang aku punya diambil dariku, bukan kecewa karena kehilangan sesuatu hal tersebut. Sejatinya karena kecewa aku sudah tidak POLOS dan LUGU lagi, sehingga aku sudah tidak bisa lagi menerima semua kehilangan itu dengan APA ADANYA.

Padahal bukankah orang yang besar adalah orang yang setelah gagal masih mau bangkit dan mencoba lagi? Mau menerima dengan lapang dada dan apa adanya.
Mungkin mereka memang masih anak kecil, tapi kawan taukah kamu bahwa badan yang kecil bukan berarti jiwa yang terperangkap di dalamnya juga kecil, bisa jadi jiwa yang besar justru ada di dalam sesuatu yang kita anggap kecil.
Mungkin kita orang yang merasa dewasa harus mulai belajar untuk melihat segala sesuatu dari ISI-nya bukan WADAH-nya.

Ombak yang menyentuh kaki ini pun membuat ku sadar dan kembali ke dunia nyata, padahal sebelumnya aku berada di dimensi ruang berpikirku. Semuanya terasa hanya sekejap saja tapi nyatanya waktu sudah berlalu cukup lama. Kami harus segera beranjak lagi dari tempat ini.
Bangun pagi sinar mentari hangat di hati
seiring Bob Marley nyanyikan lagu cinta
Aku belum mandi dan gosok gigi,aku sudah di air
Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas
Lagu Imanez - Anak Pantai seolah ikut mengiringi kesadaran ku.

Kawan, taukah kamu? Tersadar kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya berada di alam pikiran itu rasanya seperti bangun dari mimpi. Berat untuk bangkit, enggan untuk bergerak kembali, rasanya ingin melanjutkan tidur dan bermimpi. Tapi bagaimana bisa membuat mimpi indah ini menjadi sebuah kenyataan? Kalau untuk bangun saja kita malas. Oke. Oke. Saya akan segera bangun. Tapi setelah ngulet dulu.

Bangkit dan tersadar dari lamunan benar-benar membuat perut ini keroncongan. Segera kami berjalan menuju ke sebuah warung makan. Namun, sangat disayangkan semua kursi telah dipenuhi oleh para pengunjung. Akhirnya kami hanya membeli beberapa makanan ringan saja untuk dimakan sambil jalan. Beberapa kue dan minuman sudah ada di tangan, sekarang saatnya mencari tempat persinggahan. Sambil berjalan, kami melewati beberapa bangunan tua bekas peninggalan dari masa lalu.
picture from nasikhudinisme.com
Kami punya beberapa tempat untuk dijadikan lokasi terakhir bersantai sambil menunggu kapal. Lokasi bangunan tua, pinggir pantai dekat dermaga, atau di sebuah pendopo. Ketika akan berembuk, tiba-tiba seseorang menyeletuk.
“Duh, kayanya aku kebelet kencing nih.”, ucap Ra.
“Sama, Ra. Aku juga mau ke toilet nih.”, ujar Vin.
“Oke, kami tunggu kalian di pantai dekat dermaga saja ya!”, ucap Ian.
Secara bersamaan aku dan Ian berjalan menuju pantai, sedangkan Vin dan Ra berjalan menuju toilet umum terdekat. Sesampainya di pantai, aku melihat beberapa benda yang sudah digerogoti oleh karat tapi masih dapat dikenali bentuknya. Benda yang ada di dekatku saat itu adalah sebuah meriam tua yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya. Tak bisa kubayangkan bagaimana dulu mereka yang ada di pulau ini begitu mengandalkannya sebagai senjata untuk membuat karam kapal musuh.
Picts from onedaytrip1000.blogspot and rizkidwika.co
Kulihat Ian sedang menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Sesaat sebelum ia memulai percakapan, ku utarakan padanya bahwa aku akan jalan sebentar untuk melihat lihat meriam-meriam tua. Ia mengacungkan jempolnya padaku sebagai tanda bahwa ia mengerti dan setuju. Baru beberapa langkah aku berjalan untuk mendekati meriam yang kedua, sesuatu dari atas pohon tiba-tiba seperti jatuh hendak mengenai pundak belakang ku. Antara kaget dan takut aku ingin melihat ke arah belakang, karena aku sangat yakin benda itu bukanlah sebuah batang pohon. Aku menolehkan kepala.
Seekor monyet jawa berekor panjang, Macaca fascicularis, sedang terjun bebas hendak menemplok di bahu ku. Refleks aku melompat menjauhinya. Kaget dan rasanya jantung ini mau copot. Hanya satu yang membuat perasaanku lega kembali, ternyata rantai yang membelit sang monyet tidak cukup panjang untuk menggapai ku. Akhirnya ia berayun menuju ke rumah pohonnya kembali. Mungkin itu adalah monyet peliharaan pengurus pulau batinku. Walaupun ingin rasanya hati ini maklum pada tingkah lakunya, tapi rasa kesal karena telah dibuat kaget membuatku ingin menggoda balik sang monyet.
picts from got-blogger.co and plesiranid.wordpress.co
Ada sebuah pisang yang tergeletak di bawah rumah pohonnya. Aku lihat rantai sang monyet tidak cukup panjang untuk membiarkannya menggapai pisang itu. Ku ambil pisang tersebut secepat mungkin. Saat sang monyet berusaha menangkapku kembali, aku sudah berhasil menghindar. Namun bedanya, kali ini aku punya senjata pamungkas berupa pisang. Hahaha, akan aku tunjukan bagaimana caranya membuat seekor menangis, ucapku dalam hati.

Aku pamerkan pisang tersebut di depannya dari jarak aman yang tidak mungkin tergapai karena rantai yang membeitnya tidak cukup panjang. Sang monyet yang melihat pisang kuning segar segera melompat untuk menggapainya tapi sayangnya ia harus kembali berayun karena tidak sampai untuk menyentuh pisang. Berkali-kali dicobanya tapi tidak berhasil hingga ia mengeluarkan suara gaduh karena mungkin kesal tidak dapat mengambil pisang yang aku pegang. Aku pun akhirnya iba.

“Nih pisangnya, jangan suka bikin kaget orang lagi ya, Nyet!”, ucapku pada sang monyet sambil melemparkan pisang. Seperti Tarzan rasanya mencoba mengajak ngobrol seekor monyet. Tapi sayangnya saya bukan Tarzan, juga bukan saudara sang monyet, yang bisa mengerti bahasanya.
Bersamaan dengan aku melempar pisang, kudengar suara orang berjalan dan berbicara.
“Berisik amat monyetnye! Ade ape ye?”, ucap salah seorang pengurus.
“Mungkin kesenengan karena dapat pisang, Bang! Tadi pisangnya jatoh, saya lemparin saja ke dia”, ucapku sambil menunjuk monyet yg sedang lahap makan pisang. Hampir saja kepergok lagi ngerjain monyetnya abang ini, ucapku dalam hati.
“Iya kayanya, mungkin laper dia.”, ucap sang penjaga.
“Ini monyet peliharaan, Abang?”, tanyaku.
“Iya, Mas. Lumayan buat hiburan dan penghilang jenuh.”, jawabnya.
“Sudah lama tinggal dan ngurus di sini, Bang?, tanyaku lagi.
“Lumayan lah. Oiya, tinggal di mana, Mas?”, jawabnya sekaligus bertanya.
“Saya di Cilandak, Jakarta Selatan, Bang.”, jawabku.
pict from nurindahf.co
“Bang, dulu di pulau ini tempat buat aktivitas apa saja? Kok sepertinya banyak reruntuhan bangunan tua tapi kondisinya masih ada yang utuh beberapa, dan beberapa terlihat seperti barak atau bangsal rumah sakit.” Tanyaku padanya.
“Nih ane (saya) kasih tau, Pulau ini ‘ga hanya disebut Pulau Cipir atau dalam bahasa Belandanya disebut Kuijper, tapi dulu juga disebut dengan Pulau Khayangan. Sekitar abad 19, mungkin tahun 1911 pulau ini jadi lahan Rumah Sakit bagi penderita penyakit menular yang butuh perawatan atau karantina. Serta digunakan sebagai pusat karantina bagi para jamaah yang akan berangkat ibadah Haji pula.”, Jelasnya cukup panjang.
pict from aningasalnulis.co
“Wah, hampir sama dengan yang ada di Pulau Onrust ya, Bang?”, tanyaku kembali.
“Betul, erat memang kaitan antara 3 pulau di sini, Onrust, Cipir, dan Kelor. Konon ada sebuah jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Kalau kamu penasaran dan mau lihat, kamu bisa jalan ke bagian Pulau Cipir yang menghadap ke arah Pulau Onrust. Seperti ada bagian yang menjorok ke arah lautan dan mengarah ke Pulau Onrust.”, Jelasnya padaku lagi.
Aku hendak bertanya kembali, tapi ku dengar suara yang tak asing di telinga ku.
“Ra, Wira! Ayo ke dermaga! Kapalnya sudah datang nih.”, ajak Ian padaku dari kejauhan.
“Oke, Ian! Aku ke sana.”, jawabku.
“Bang, makasih ya ceritanya! Semoga bisa ketemu dan ngobrol lagi. Bisa ngerjain.. eh ngasih makan monyetnya lagi.”, ucapku.
“Siap, sama sama, Coy!” ujarnya.

Aku pun meninggalkan tempat itu dan segera berjalan menuju kapal. Ku lihat Ra dan Vin sudah bergabung dengan Ian untuk segera naik ke atas perahu. Sebagai penumpang terakhir yang naik ke atas perahu, aku pun segera duduk di tempat kosong agar kapal tidak perlu menunggu lama untuk bergerak. Perahu berjalan mengarungi lautan segera setelah mesin dinyalakan dan kami pun meninggalkan Pulau Khayangan yang sekarang terlihat kecil dari kejauhan. Hingga akhirnya kami tiba kembali di Pelabuhan Muara Kamal.

Perpisahan tidak dapat kami hindari, sudah saatnya kami pulang ke kediaman kami masing-masing. Berjalan menjauhi Pelabuhan Kamal Muara hingga tiba di sebuah pangkalan tempat angkutan umum yang berupa omprengan sedang mangkal. Kami pun segera menaiki mobil berkapasitas 11 penumpang yang akan mengantar kami ke halte Transjakarta terdekat. Sekitar setengah jam berkendara, akhirnya kami pun tiba di Halte Rawa Buaya. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki Bus Transjakarta yang akan membawa kami ke tujuan. Pulang menuju rumah.

Setelah sebuah perjalanan kita mulai, tentu akan diakhiri dengan kata selesai. Namun, secara bersamaan suatu hal baru juga akan dimulai kembali. Sebuah awal menjadi akhir, dan sebuah akhir akan menjadi awal kembali. Begitulah siklusnya, untuk setiap apa yang kita anggap ada. Karena, tidak ada suatu hal pun yang diakhiri dengan kehampaan dan ketiadaan. Semua itu hanya sebuah permulaan. Permulaan yang baru.

Begitu juga denganku, akan aku lanjutkan perjalanan mencari mencari setiap remah-remah yang telah Ia tinggalkan. Setiap kepingan nilai yang telah Ia dijatuhkan,  berserakan di berbagai tempat berharap untuk segera ditemukan. Semua itu akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Location : Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me



RENDY KAMIL

is an Indonesian Explorer
interest with Photography & Videography
'Cause
"Your Life is Only Real When Shared"
instagram.com/rendykamil
youtube.com/rendykamil
You are here with
Travellers

Follow Us

Labels

30HariBercerita Celoteh Cerita Garut Gunung Papandayan Perjalanan Puisi Pulau Cipir Pulau Kelor Pulau Onrust Pulau Seribu Travel Guide Travel Story

Popular Posts

  • PERJALANAN
    Aku sendiri tidak tau pasti kapan tepatnya aku mulai menyukai kata “ Perjalanan ”. Mungkin semua itu dimulai sejak aku akhirnya terbias...
  • Jelajah 3 Pulau : Pulau Kelor
    PULAU KELOR : Garis Depan Penahan Teror Milik VOC Yang Terkenal Horror (3 in 1) DKI Jakarta, Jakarta Selatan, tepat saat aku sedan...
  • SYAIR PERJALANAN
    MERANTAULAH (Syair Imam Asy-Syafi’i) ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﻟـﺬﻱ ﻋﻘـﻞٍ ﻭﺫﻱ ﺃﺩﺏٍ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﺔ Orang berilmu (pandai) dan beradab tidak a...
  • Gunung Papandayan : Setiap Tujuan Harus Selalu Diperjuangkan! (2/4)
    Garut, Senin dini hari, saat bulan bersinar terang setelah hujan berhenti, saat pagi segera ia akan berganti dengan matahari. Sebua...
  • Gunung Papandayan - Walau Terasa Sulit, Usahakan Untuk Summit! (3/4)
    Gunung Papandayan, Senin siang, saat kami melakukan perjalanan menuju ke sebuah tanah lapang. Berjalan kaki sekitar 45 menit menyusur...
  • 30 Hari Bercerita : Terbit Tenggelam
    #30HBC1804 #30HariBercerita Tenggelam atau terbit Bedanya hanya sedikit Tapi saya selalu suka Saat-saat cahaya Datang Dan hi...
  • 30 Hari Bercerita : Jatuh
    #30HBC1802 #30HariBercerita Jatuh dan tersungkur Terpuruk hingga menunduk Membuat suasana semakin buruk Rasanya tak mungkin ...
  • 30 Hari Bercerita : Menulis
    #30HBC1805 #30HariBercerita Menulis Mungkin terdengar melankolis, puitis, atau romantis. . Tapi sejak dulu saya ingin sekali d...
  • Goodbye, Welcome !
    Ga kerasa tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti menjadi tahun 2018. Banyak hal yang terjadi sejak bulan pertama hingga bulan ...
  • Gunung Papandayan : Jangan Hanya Termenung! Ayo Pergi Ke Gunung! (1/4)
    DKI Jakarta, Minggu pagi, aku sendiri tidak dapat mengingatnya dengan detail, tetapi masih di bulan-bulan awal tahun 2015. Semua in...

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (9)
    • ▼  January (9)
      • Travel Guide : Perjalanan Menuju Papandayan
      • Gunung Papandayan : Setiap Perjalanan Pulang, Sela...
      • Gunung Papandayan - Walau Terasa Sulit, Usahakan U...
      • 30 Hari Bercerita : Menulis
      • Gunung Papandayan : Setiap Tujuan Harus Selalu Dip...
      • 30 Hari Bercerita : Terbit Tenggelam
      • 30 Hari Bercerita : Naik
      • 30 Hari Bercerita : Jatuh
      • 30 Hari Bercerita : Awalan
  • ►  2017 (8)
    • ►  December (8)

Google+

Unknown
View my complete profile

Search This Blog

FOLLOW ME @INSTAGRAM

by Rendy Kamil and R