Powered by Blogger.
  • Home
  • Travel Guide
  • Travel Story
  • Gallery
    • Photos
    • Videos
  • Puisi
  • Celoteh
  • About
  • Contact

RendyKamil

facebook google twitter tumblr instagram linkedin

papandayan 2

DKI Jakarta, Minggu pagi, aku sendiri tidak dapat mengingatnya dengan detail, tetapi masih di bulan-bulan awal tahun 2015.

Semua ini bermula dari adanya kebijakan mendadak dari tempatku mengais rejeki yang menyarankan untuk mengambil hari libur / bebas tugas kerja selama 2-3 hari. Awalnya aku sempat enggan untuk meliburkan diri karena selain saat ini masih musim hujan, aku sedang tidak ada rencana untuk berkegiatan apa pun. Hingga aku berbincang dengan beberapa temanku yang ternyata bernasib sama untuk mengambil jatah libur selama beberapa hari.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
penawisata.blogspot.com
Travel Guide : Pergi Ke 3 Pulau Dalam 1 Hari (3 in 1)
Sebagai warga Kota Jakarta, wilayah Kepulauan Seribu tentu sangatlah mudah dijangkau. Namun, terkadang kendalanya adalah kurangnya informasi atau kurangnya keinginan kita sendiri untuk mencari tau berbagai cara untuk sampai ke sana. Padahal wilayah tersebut telah siap sedia menawarkan berbagai pesonanya. Kali ini daerah yang saya datangi adalah Taman Arkeologi Onrust, Cipir, dan Kelor. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang mungkin berguna bagi anda :
Onrust Kelor Cipir Bidadari
Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Taman Arkeologi Onrust, Cipir, dan Kelor.
  • Mengikuti Open Trip yang sering dibuka oleh penyedia jasa perjalanan, total biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah daripada kita pergi sendiri. Namun kekurangannya kita akan terikat oleh jadwal yang diberikan oleh pemandu. Biasanya biaya yang ditawarkan berkisar antara Rp 100.000 - 150.000 per orang.
    • Bisa dilihat dan dicari di sini
  • Melakukan perjalanan sendiri, tipe ini sangat cocok untuk kita yang lebih ingin bebas dalam bepergian. Namun, biaya yang dikeluarkan bisa lebih mahal tergantung jumlah orang yang ada.
Terdapat beberapa pelabuhan yang menyediakan transportasi air untuk ke sana, yaitu :
  • Pelabuhan Marina, Taman Impian Jaya Ancol
    • Dari pelabuhan ini bisa dilanjutkan dengan menaiki speedboat menuju Pulau Bidadari dengan harga Rp 300.000-500.000 per orang, pulang pergi.
    • Jika kita menginap di Pulau Bidadari, pengelola pulau terkadang menyediakan transportasi untuk penjemputan.
    • Dari Pulau Bidadari menuju ke Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor dapat menggunakan kapal-kapal kayu yang menawarkan paket keliling pulau-pulau tersebut dengan biaya Rp 50.000-150.000 per orang.
pict from onisetiyabudi.blogspot.co
  • Pelabuhan Muara Angke / Pelabuhan Ancol
    • Dari sini kita bisa menyewa kapal untuk ke pulau-pulau tersebut dengan kisaran harga antara Rp 700.000-2.000.000 per hari, tergantung jenis kapal.
    • Alternatif kedua, kita bisa naik kapal transport berkapasitas lebih dari 100 orang dari Pelabuhan Muara Angke yang akan menuju ke Pulau Untung Jawa dengan harga tiket Rp 25.000 atau Kapal Kerapu dari Pelabuhan Ancol dengan harga tiket yang Rp 25.000-50.000
    • Dari Pulau Untung Jawa, kita dapat menyewa kapal untuk pergi ke Pulau Onrust dengan kisaran harga Rp 50.000-150.000 per orang
pict from wisata-murah-pulau-seribu.blogspot.co
  • Pelabuhan Kamal Muara
Karena telah banyak informasi di dunia maya untuk mencapai Pelabuhan Marina dan Pelabuhan Muara Angke, maka saya hanya akan membahas secara mendetail transportasi menuju ke Pelabuhan Kamal Muara saja.
8
Jika kita berdomisili di dalam atau di luar kota Jakarta, terdapat beberapa cara untuk mencapai Pelabuhan Kamal Muara dengan menggunakan beberapa moda transportasi umum seperti :
  • Kereta Listrik (KRL) yang siap membawa kita dari kota asal hingga sampai di Stasiun Angke. Daftar kereta api yang menuju ke Stasiun Jakarta Kota dapat dilihat di sini.
    • salah satunya adalah KRL jurusan Bogor-Jakarta Kota, cukup mengeluarkan uang sebesar 2500-5000 rupiah untuk menebus tiket kereta, kita sudah bisa menjangkau tempat ini dari stasiun terdekat di daerah kita tinggal
    • Dilanjutkan dengan menaiki angkutan kota bernomor 06 yang berwarna merah menuju arah Pelabuhan. Lalu dari tempat pemberhentian kita dapat berjalan kaki atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
    • Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupua mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000
www.semboyan35.com
  • Bus dari Terminal Besar Kota Jakarta
    • Kita bisa menggunakan Kopaja B 86 Jurusan Lebak bulus – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M53 Jurusan Pulogadung – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M41 Jurusan Grogol – Stasiun Kota, turun di Perempatan Cengkareng.
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M39 Jurusan Pasar Senen – Stasiun Kota
    • Kita bisa menggunakan Mikrolet M08 Jurusan Tanah Abang – Stasiun Kota
    • Dilanjutkan dengan :
    • Menggunakan Angkutan KWK B06 Jurusan Kota – kamal
    • Lalu dari tempat pemberhentian kita dapat berjalan kaki atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
    • Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupua mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000
wartakota.tribunnews.com
  • Bus Transjakarta koridor 3(Kalideres – Pasar Baru), turun di Halte Rawa Buaya.
    • Kita juga bisa menggunakan Bus Transjakarta dari koridor lainnya dan melakukan transit di halte Harmoni.
    • Dari Halte Rawa Buaya, Kita juga bisa menggunakan angkutan yang berupa mobil omprengan dengan membayar Rp 5.000-10.000 atau menaiki ojek dengan kisaran harga Rp 10.000-25.000
4.jpg
Dari Pelabuhan Kamal Muara kita dapat menyewa kapal dengan kisaran harga Rp 300.000 – 700.00 per hari untuk keliling pulau-pulau yang ada di sekitar sana.
Beberapa Pulau yang dapat disinggahi setelah berlayar dari Pelabuhan Kamal Muara :
  • Pulau Onrust
1
  • Pulau Cipir
1
  • Pulau Kelor
0a.jpg
  • Pulau Bidadari
liputanspkanakmuda.blogspot.com
  • Pulau Untung Jawa
penawisata.blogspot.com
  • Pulau Rambut
Harga tiket masuk setiap pulau pun berbeda-beda mulai dari Rp 5.000
Disarankan untuk membawa bekal makanan dan minuman untuk menghemat pengeluaran. Namun, jangan lupa untuk membeli es kelapa muda yang di jual di warung yang ada di Pulau onrust. Segarnya air kelapa mampu mengenyahkan dahaga sembari kita duduk santai di pinggir pantai.
Bagi anda yang sering mabuk laut, diharapkan membawa obat-obatan anti mabuk.

Sungguh sangat disayangkan bila kita belum sempat menjelajahi Pulau yang kaya akan sejarah pada masa lampau, karena pengalaman dan sejarah yang ditawarkan terlalu menarik untuk kita lewatkan. Semoga ini semua dapat menginspirasi kita untuk lebih sering mempelajari sejarah dan menjelajahi peninggalan sejarah di Kota tempat kita tinggal.

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan cerita kedua saya yang berbentuk novel / cerpen / cerbung pada postingan-postingan sebelumnya. Semoga ini semua menjadi langkah baik untuk memulai kenginan saya untuk dapat aktif berbagi pengalaman dalam bentuk cerita dan dilanjutkan dengan bentuk laporan perjalanan.

Terima kasih telah sudi membaca tulisan-tulisan saya.
Jakarta selatan, Suatu pagi yang cerah di hari Jumat.

Images & Informations : koleksi pribadi, jakarta.go.id, wikimedia.org, etc.
Location : Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pulau Cipir : Hadiah Yang Tak Pernah Terpikir  Saat Perjalanan Hampir Berakhir (3 in 1)
Pulau Cipir, DKI Jakarta, Saat matahari semakin condong ke arah barat dan kapal akan segera merapat.

Pulau Cipir adalah tujuan perjalanan kami yang terakhir, karena setelah mampir semua keseruan ini akan segera berakhir. Namun kami tidak lagi khawatir, tempat ini menyambut kami dengan hamparan pasir. Putih warnanya di setiap butir berbaur dengan ombak yang terus mengalir. Hingga aku pun ingin segera bermain air, untuk menyegarkan badan ku yang pegal setelah berplesir.
Sesaat setelah kami turun dari kapal, trip leader ku mengatakan bahwa kami punya waktu yang cukup lama untuk bersantai di sini. Karena kami akan kembali ke Pelabuhan Muara Kamal saat menjelang petang. Di pulau ini lebih banyak pula area yang berpasir dibanding dua pulau sebelumnya sehingga jika ingin bermain-main pasir atau sekedar membasahkan kaki dengan air laut lebih nyaman untuk dilakukan. Ada beberapa kamar mandi umum yang dapat kita gunakan untuk membilas badan yang kotor dan berpasir. Bila merasa lapar setelah bermain air terdapat pula sebuah warung yang menyediakan makanan dan minuman hangat untuk mengisi perut.
2
Rasa pegal di kaki membuat kami lebih ingin duduk-duduk santai di tepian pantai. Namun, suasana pantai dekat dermaga yang ramai oleh pengunjung membuat kami merasa area itu bukan tempat yang pas untuk istirahat. Saat itu warung pun sedang ramai dipenuhi oleh para pembeli yang sudah datang mendahului kami. Akhirnya kami berjalan lagi menyusuri jalur utama yang ada di sini hingga tiba di pantai yang ada di bagian belakang pulau. Di tempat itu terdapat lebih sedikit pengunjung di banding bagian depan pulau dan mereka juga tampaknya sedang duduk-duduk santai atau beberapa dari mereka sedang merebahkan diri di atas pasir. Setelah mencari tempat yang cukup rata dan nyaman untuk diduduki, kami berempat segera menjatuhkan diri di sana.

Menikmati semilir angin sambil meluruskan kaki sungguh nikmat rasanya. Sesekali aku memperhatikan dua orang anak kecil yang sedang membuat gundukan pasir, entah apa sebabnya aku pun tersenyum kecil memandang mereka. Mungkin ekspresi mereka yang lugu sambil sesekali tertawa saat tau bahwa pasir yang mereka tumpuk ternyata kembali terseret ombak tapi segera mereka kumpulkan lagi. Sedikit demi sedikit mereka kumpulkan kembali pasir yang sempat hanyut hingga menjadi gundukan pasir yang besar. Hingga saat ombak kembali menyeret pasir yang menggunung itu ke arah laut lagi, mereka tidak khawatir karena masih banyak persediaan pasir di gundukan itu.
ocehandadi.blogspot.com
Rasanya seperti aku diajari oleh kepolosan mereka saat itu, bagaimana caranya untuk tetap ikhlas dan tidak berhenti berusaha walaupun semua yang telah kita kumpulkan diseret kembali oleh ombak ke tempatnya semula. Bukan ekspresi kesal atau kecewa saat pasir mereka dicuri oleh sang ombak, tapi senyum dan tawa yang seolah menantang sang ombak untuk jangan sekali-sekali berani mengambil apa yang telah mereka kumpulkan. Karena jika ombak mengikis gundukan pasir mereka sebanyak satu kepalan tangan maka mereka akan mengambil lagi pasir yang hanyut sebanyak dua kepalan tangan.

Senyum yang terpampang di muka ku saat itu adalah ungkapan ekspresi bahagia seperti saat para ilmuan penemu berhasil menemukan suatu hal yang baru, lalu mereka pun akan berkata “Eureka, aku menemukannya!” sambil tersenyum kecil. Kira-kira seperti itu. Perasaan ku bahagia saat itu, menemukan hal baru yang menambah kemampuan ku untuk jadi lebih bijaksana. Pelajaran yang mereka berikan tentang bagaimana kita harus tetap ikhlas saat sesuatu yang sudah susah payah kita kumpulkan tiba-tiba tanpa aba-aba diambil kembali oleh Yang Maha Memiliki. Karena sejatinya memang semua yang kita kumpulkan adalah milik-Nya.

Kesal dan marah mungkin wajar saat apa yang kita punya diambil, tapi bukankah anak-anak kecil itu memperlihatkan padaku bahwa jika senyum dan tawa lebih membuat kita bersemangat saat mencoba mengumpulkan kembali apa yng telah hilang. Yah, jika aku ingin berdalih aku bisa saja berkata bahwa aku sudah tak sepolos mereka. Mereka mungkin masih lugu, makanya belum terlalu dapat merasakan apa yang dinamakan KEHILANGAN, segalanya lenyap padahal semua itu sudah sedari lama kau perjuangkan.

Setelah kupikir-pikir ternyata memang benar itu semua hanya dalih, kesempatanku satu-satunya untuk berkelit dan mempertahankan egoku. Padahal jika mau jujur sejatinya aku iri pada mereka, Karena mereka punya sesuatu yang sudah tidak ada lagi dalam diriku. KEPOLOSAN, KELUGUAN, APA ADANYA. Semua kata itu adalah sesuatu yang sebenarnya yang sudah diambil dariku tanpa aku sadari. Sehingga aku pun kecewa saat sesuatu yang aku punya diambil dariku, bukan kecewa karena kehilangan sesuatu hal tersebut. Sejatinya karena kecewa aku sudah tidak POLOS dan LUGU lagi, sehingga aku sudah tidak bisa lagi menerima semua kehilangan itu dengan APA ADANYA.

Padahal bukankah orang yang besar adalah orang yang setelah gagal masih mau bangkit dan mencoba lagi? Mau menerima dengan lapang dada dan apa adanya.
Mungkin mereka memang masih anak kecil, tapi kawan taukah kamu bahwa badan yang kecil bukan berarti jiwa yang terperangkap di dalamnya juga kecil, bisa jadi jiwa yang besar justru ada di dalam sesuatu yang kita anggap kecil.
Mungkin kita orang yang merasa dewasa harus mulai belajar untuk melihat segala sesuatu dari ISI-nya bukan WADAH-nya.

Ombak yang menyentuh kaki ini pun membuat ku sadar dan kembali ke dunia nyata, padahal sebelumnya aku berada di dimensi ruang berpikirku. Semuanya terasa hanya sekejap saja tapi nyatanya waktu sudah berlalu cukup lama. Kami harus segera beranjak lagi dari tempat ini.
Bangun pagi sinar mentari hangat di hati
seiring Bob Marley nyanyikan lagu cinta
Aku belum mandi dan gosok gigi,aku sudah di air
Dengan segelas kopi kupandang lautan lepas
Lagu Imanez - Anak Pantai seolah ikut mengiringi kesadaran ku.

Kawan, taukah kamu? Tersadar kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya berada di alam pikiran itu rasanya seperti bangun dari mimpi. Berat untuk bangkit, enggan untuk bergerak kembali, rasanya ingin melanjutkan tidur dan bermimpi. Tapi bagaimana bisa membuat mimpi indah ini menjadi sebuah kenyataan? Kalau untuk bangun saja kita malas. Oke. Oke. Saya akan segera bangun. Tapi setelah ngulet dulu.

Bangkit dan tersadar dari lamunan benar-benar membuat perut ini keroncongan. Segera kami berjalan menuju ke sebuah warung makan. Namun, sangat disayangkan semua kursi telah dipenuhi oleh para pengunjung. Akhirnya kami hanya membeli beberapa makanan ringan saja untuk dimakan sambil jalan. Beberapa kue dan minuman sudah ada di tangan, sekarang saatnya mencari tempat persinggahan. Sambil berjalan, kami melewati beberapa bangunan tua bekas peninggalan dari masa lalu.
picture from nasikhudinisme.com
Kami punya beberapa tempat untuk dijadikan lokasi terakhir bersantai sambil menunggu kapal. Lokasi bangunan tua, pinggir pantai dekat dermaga, atau di sebuah pendopo. Ketika akan berembuk, tiba-tiba seseorang menyeletuk.
“Duh, kayanya aku kebelet kencing nih.”, ucap Ra.
“Sama, Ra. Aku juga mau ke toilet nih.”, ujar Vin.
“Oke, kami tunggu kalian di pantai dekat dermaga saja ya!”, ucap Ian.
Secara bersamaan aku dan Ian berjalan menuju pantai, sedangkan Vin dan Ra berjalan menuju toilet umum terdekat. Sesampainya di pantai, aku melihat beberapa benda yang sudah digerogoti oleh karat tapi masih dapat dikenali bentuknya. Benda yang ada di dekatku saat itu adalah sebuah meriam tua yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya. Tak bisa kubayangkan bagaimana dulu mereka yang ada di pulau ini begitu mengandalkannya sebagai senjata untuk membuat karam kapal musuh.
Picts from onedaytrip1000.blogspot and rizkidwika.co
Kulihat Ian sedang menerima sebuah panggilan dari ponselnya. Sesaat sebelum ia memulai percakapan, ku utarakan padanya bahwa aku akan jalan sebentar untuk melihat lihat meriam-meriam tua. Ia mengacungkan jempolnya padaku sebagai tanda bahwa ia mengerti dan setuju. Baru beberapa langkah aku berjalan untuk mendekati meriam yang kedua, sesuatu dari atas pohon tiba-tiba seperti jatuh hendak mengenai pundak belakang ku. Antara kaget dan takut aku ingin melihat ke arah belakang, karena aku sangat yakin benda itu bukanlah sebuah batang pohon. Aku menolehkan kepala.
Seekor monyet jawa berekor panjang, Macaca fascicularis, sedang terjun bebas hendak menemplok di bahu ku. Refleks aku melompat menjauhinya. Kaget dan rasanya jantung ini mau copot. Hanya satu yang membuat perasaanku lega kembali, ternyata rantai yang membelit sang monyet tidak cukup panjang untuk menggapai ku. Akhirnya ia berayun menuju ke rumah pohonnya kembali. Mungkin itu adalah monyet peliharaan pengurus pulau batinku. Walaupun ingin rasanya hati ini maklum pada tingkah lakunya, tapi rasa kesal karena telah dibuat kaget membuatku ingin menggoda balik sang monyet.
picts from got-blogger.co and plesiranid.wordpress.co
Ada sebuah pisang yang tergeletak di bawah rumah pohonnya. Aku lihat rantai sang monyet tidak cukup panjang untuk membiarkannya menggapai pisang itu. Ku ambil pisang tersebut secepat mungkin. Saat sang monyet berusaha menangkapku kembali, aku sudah berhasil menghindar. Namun bedanya, kali ini aku punya senjata pamungkas berupa pisang. Hahaha, akan aku tunjukan bagaimana caranya membuat seekor menangis, ucapku dalam hati.

Aku pamerkan pisang tersebut di depannya dari jarak aman yang tidak mungkin tergapai karena rantai yang membeitnya tidak cukup panjang. Sang monyet yang melihat pisang kuning segar segera melompat untuk menggapainya tapi sayangnya ia harus kembali berayun karena tidak sampai untuk menyentuh pisang. Berkali-kali dicobanya tapi tidak berhasil hingga ia mengeluarkan suara gaduh karena mungkin kesal tidak dapat mengambil pisang yang aku pegang. Aku pun akhirnya iba.

“Nih pisangnya, jangan suka bikin kaget orang lagi ya, Nyet!”, ucapku pada sang monyet sambil melemparkan pisang. Seperti Tarzan rasanya mencoba mengajak ngobrol seekor monyet. Tapi sayangnya saya bukan Tarzan, juga bukan saudara sang monyet, yang bisa mengerti bahasanya.
Bersamaan dengan aku melempar pisang, kudengar suara orang berjalan dan berbicara.
“Berisik amat monyetnye! Ade ape ye?”, ucap salah seorang pengurus.
“Mungkin kesenengan karena dapat pisang, Bang! Tadi pisangnya jatoh, saya lemparin saja ke dia”, ucapku sambil menunjuk monyet yg sedang lahap makan pisang. Hampir saja kepergok lagi ngerjain monyetnya abang ini, ucapku dalam hati.
“Iya kayanya, mungkin laper dia.”, ucap sang penjaga.
“Ini monyet peliharaan, Abang?”, tanyaku.
“Iya, Mas. Lumayan buat hiburan dan penghilang jenuh.”, jawabnya.
“Sudah lama tinggal dan ngurus di sini, Bang?, tanyaku lagi.
“Lumayan lah. Oiya, tinggal di mana, Mas?”, jawabnya sekaligus bertanya.
“Saya di Cilandak, Jakarta Selatan, Bang.”, jawabku.
pict from nurindahf.co
“Bang, dulu di pulau ini tempat buat aktivitas apa saja? Kok sepertinya banyak reruntuhan bangunan tua tapi kondisinya masih ada yang utuh beberapa, dan beberapa terlihat seperti barak atau bangsal rumah sakit.” Tanyaku padanya.
“Nih ane (saya) kasih tau, Pulau ini ‘ga hanya disebut Pulau Cipir atau dalam bahasa Belandanya disebut Kuijper, tapi dulu juga disebut dengan Pulau Khayangan. Sekitar abad 19, mungkin tahun 1911 pulau ini jadi lahan Rumah Sakit bagi penderita penyakit menular yang butuh perawatan atau karantina. Serta digunakan sebagai pusat karantina bagi para jamaah yang akan berangkat ibadah Haji pula.”, Jelasnya cukup panjang.
pict from aningasalnulis.co
“Wah, hampir sama dengan yang ada di Pulau Onrust ya, Bang?”, tanyaku kembali.
“Betul, erat memang kaitan antara 3 pulau di sini, Onrust, Cipir, dan Kelor. Konon ada sebuah jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Kalau kamu penasaran dan mau lihat, kamu bisa jalan ke bagian Pulau Cipir yang menghadap ke arah Pulau Onrust. Seperti ada bagian yang menjorok ke arah lautan dan mengarah ke Pulau Onrust.”, Jelasnya padaku lagi.
Aku hendak bertanya kembali, tapi ku dengar suara yang tak asing di telinga ku.
“Ra, Wira! Ayo ke dermaga! Kapalnya sudah datang nih.”, ajak Ian padaku dari kejauhan.
“Oke, Ian! Aku ke sana.”, jawabku.
“Bang, makasih ya ceritanya! Semoga bisa ketemu dan ngobrol lagi. Bisa ngerjain.. eh ngasih makan monyetnya lagi.”, ucapku.
“Siap, sama sama, Coy!” ujarnya.

Aku pun meninggalkan tempat itu dan segera berjalan menuju kapal. Ku lihat Ra dan Vin sudah bergabung dengan Ian untuk segera naik ke atas perahu. Sebagai penumpang terakhir yang naik ke atas perahu, aku pun segera duduk di tempat kosong agar kapal tidak perlu menunggu lama untuk bergerak. Perahu berjalan mengarungi lautan segera setelah mesin dinyalakan dan kami pun meninggalkan Pulau Khayangan yang sekarang terlihat kecil dari kejauhan. Hingga akhirnya kami tiba kembali di Pelabuhan Muara Kamal.

Perpisahan tidak dapat kami hindari, sudah saatnya kami pulang ke kediaman kami masing-masing. Berjalan menjauhi Pelabuhan Kamal Muara hingga tiba di sebuah pangkalan tempat angkutan umum yang berupa omprengan sedang mangkal. Kami pun segera menaiki mobil berkapasitas 11 penumpang yang akan mengantar kami ke halte Transjakarta terdekat. Sekitar setengah jam berkendara, akhirnya kami pun tiba di Halte Rawa Buaya. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki Bus Transjakarta yang akan membawa kami ke tujuan. Pulang menuju rumah.

Setelah sebuah perjalanan kita mulai, tentu akan diakhiri dengan kata selesai. Namun, secara bersamaan suatu hal baru juga akan dimulai kembali. Sebuah awal menjadi akhir, dan sebuah akhir akan menjadi awal kembali. Begitulah siklusnya, untuk setiap apa yang kita anggap ada. Karena, tidak ada suatu hal pun yang diakhiri dengan kehampaan dan ketiadaan. Semua itu hanya sebuah permulaan. Permulaan yang baru.

Begitu juga denganku, akan aku lanjutkan perjalanan mencari mencari setiap remah-remah yang telah Ia tinggalkan. Setiap kepingan nilai yang telah Ia dijatuhkan,  berserakan di berbagai tempat berharap untuk segera ditemukan. Semua itu akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Location : Pulau Cipir, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pulau Onrust : Sejarah Yang Mulai Hilang Tergerus (3 in 1)
Pulau Onrust, DKI Jakarta, Matahari sedang menempati posisi puncaknya tanpa ditutupi oleh sang awan hanya rindang dedaunan yang menghalangi sinarnya.

Pulau ini sempat menjadi buah bibir dikalangan pelancong, karena beredarnya beberapa cerita tentang pulau ini yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Aku pun penasaran untuk mencari tau tentang hal tersebut, bukan karena cerita misterinya tapi karena sejarah tentang pulau ini yang cukup aneh, misterius, dan beragam sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Pulau Onrust telah terlihat dari kejauhan. Akhirnya rasa penasaran saya akan terjawab sebentar lagi, yaitu saat perahu kayu yang kami gunakan berlabuh dan merapat ke dermaga yang ada di Pulau Onrust.
3
Tali yang tersambung pada perahu sudah ditambatkan. Seusai berjalan menuruni kapal kayu dan menuju ke daratan, kami pun segera mencari tempat untuk berkumpul. Trip leader saya yang sekaligus komandan kapal kayu kami mengajak untuk ikut berkeliling pulau sambil dijelaskan sejarah singkat tentang tempat ini. Seorang pemandu lengkap dengan pengeras suara elektronik sudah berjalan lebih dulu untuk memimpin di depan.
Pulau ini cukup ramai, ada beberapa rumah penuduk yang didirikan di sini berbaur dengan bangunan tua yang sudah lapuk termakan usia. Beberapa pohon hias tertata rapi tapi tak sedikit pula pohon-pohon besar yang menjulang tinggi berada di sekitar tempat ini. Kami pun masuk ke sebuah bangunan yang berisi berbagai peninggalan sejarah pulau ini, bangunan ini dikenal dengan Museum Pulau Onrust. Beberapa benda, poster dan maket pulau dari masa ke masa ikut melengkapi penjelasan yang diberikan oleh pemandu.

“Selamat datang di Pulau Onrust! Pada masa lampau masyarakat di sekitar sini menyebutnya dengan Pulau Kapal, Karena sebelum kapal-kapal berlabuh di Batavia mereka akan singgah di pulau ini terlebih dahulu, begitu pula dengan kapal yang hendak meninggalkan Batavia. Arti dari nama Pulau Onrust adalah “Tanpa Istirahat” atau selalu sibuk. Mungkin karena dulu di sini banyak kegiatan bongkar muat kapal yang seolah tidak pernah berhenti bekerja, tak pernah beristirahat. Pada tahun 1613-1615 di tempat ini dibangunlah sebuah galangan kapal, karena VOC melihat bahwa banyaknya kapal yang singgah sering membutuhkan perbaikan. Pada tahun 1618 Jan Pieterzoon Coen menjadikan pulau ini sebagai pulau pertahan terhadap serangan Banten dan Inggris. Sebuah Benteng kecil yang dilengkapi dengan 2 Bastion (bangunan pos pengintai) dibangun di sini pada tahun 1656. Barulah pada tahun 1674 dibangun gudang penyimpanan barang dan besi. Namun semua bangunan yang ada di Pulau Onrust sempat dimusnahkan oleh pasukan Inggris yang ingin memblokade batavia pada tahun 1800. Setelah sempat dibangun lagi dan kemudian dihancurkan oleh armada Inggris lagi pada tahun 1848 barulah pulau ini dapat difungsikan sebagaimana awalnya dan dikembangkan pembangunannya hingga tahun 1856.”, pemadu tersebut bercerita panjang lebar.
4
“Pada tahun 1911 pulau ini berubah fungsi menjadi asrama haji hingga tahun 1933 karna saat itu bila ingin naik haji hanya dapat ditempuh dengan jalur laut saja. Sehingga pada calon jamaah haji harus mulai dibiasakan untuk dapat bertahan selama melakukan perjalanan di laut lepas. Sebelumnya sempat juga pulau ini dijadikan Sanatorium TBC. Namun, sejak tahun 1933 hingga 1940 pulau ini digunakan sebagai tempat menawan para pemberontak pada “Peristiwa Kapal Tujuh” (Zeven Provicien). Pada tahun 1942, Jepang berkuasa di Batavia dan menggunakan pulau ini sebagai penjara bagi penjahat kelas berat.  Pada masa kemerdekaan RI, pulau ini dijadikan sebagai Rumah Sakit Karantina untuk penderita penyakit menular. Dan pada tahun 1960-1965 dijadikan tempat penampungan gelandangan dan pengemis serta sempat pula dijadikan tempat latihan militer. Baru pada tahun 1972, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan tempat ini sebagai Pulau Bersejarah dan dikelola sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu.”, lanjut sang pemandu menjelaskan.
6
Kami digiring untuk mengelilingi pulau dan diperlihatkan bekas bangunan-bangunan yang ia ceritakan tadi. Suasana sepanjang perjalanan terasa sejuk karena langit seolah tertutup oleh rimbunnya daun pohon-pohon besar yang ada sehingga sinar matahari pun terhalang. Melewati bagian tengah pulau bulu kuduk terasa berdiri entah kenapa. Aku mencoba memandang ke sekitar, ku temukan di tempat itu terdapat sebuah pohon sangat besar. Mungkin usianya sudah puluhan atau ratusan tahun. Karena asik mengamati dan berfoto, aku, Ra, Vin, dan Ian sempat tertinggal rombongan pemandu. Kami pun segera melanjutkan perjalanan mengikuti jalan setapak yang ada berharap dapat mengejar mereka.
7
Baru berjalan sebentar, Ra pun tak dapat menahan diri untuk mengamati reruntuhan bangunan yang dulunya digunakan sebagai bangsal-bangsal rumah sakit dan asrama haji. Akhirnya aku pun ikut ke sana untuk menemaninya menelusuri bangunan tersebut walaupun resikonya kami akan semakin tertinggal oleh rombongan pemandu. Dan ternyata benar, hanya ada kami berdua di jalan setapak ini sekarang, sepertinya Vin dan Ian sudah lebih dulu dan lebih jauh berjalan menyusuri jalan setapak.
“Kayanya kita sudah tertinggal jauh dari rombongan deh, Ra.”, ucapku.
“Iya nih, lanjut jalan aja deh yuk! Siapa tau masih bisa dikejar”, ajak Ra.
Berjalan menyusuri jalan setapak, mengantarkan kami tanpa terasa sudah mengelilingi setengah bagian pulau. Hingga kami tiba di sebuah Pemakaman Belanda yang sangat tua,
Dutch Graveyard begitu mereka menyebutnya. Suasana mulai terasa mencekam saat memasuki area pemakaman. Tanpa bisa ditahan sesekali bulu kuduk terasa berdiri. Terdapat sekitar 40 makam yang konon merupakan warga belanda yang dulu menetap di pulau ini, sebagian besar dari mereka meninggal muda akibat penyakit tropis dan wabah penyakit pes. Salah satunya adalah makam seorang anak yang umurnya hanya sampai 9 tahun saja, padahal ia lahir dan wafat di Pulau onrust.
8
Ada salah satu makam yang sangat menarik perhatian saya di area tersebut. Nisannya cukup besar dengan tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda. Cerita tentang makam Inilah yang kerap diperbincangkan di kalangan traveller yang pernah atau akan menjelajahi tempat ini. Makam ini adalah tempat persemayaman terakhir seorang gadis yang bernama Maria Van de Velde.
Ia adalah seorang gadis yang lahir di Kota Amsterdam, kemudian menetap di pulau ini hingga ia wafat pada tahun 1721. Ia masih berusia 28 tahun ketika meninggal. Sayangnya, cerita tentang kematian gadis yang masih berusia muda itu terasa sangat menyedihkan. Sebelum wafat ia dikisahkan sedang menunggu kekasihnya yang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke pulau tersebut. Mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan begitu sang kekasih tiba di pulau tersebut.
Namun, manusia boleh berencana, Tuhan Yang Maha Menentukan. Sang kekasih tak kunjung datang menemuinya, kabarnya ia wafat di perjalanan. Maria yang merasa sangat sedih karena penantian yang tak berujung, menjadi sering sakit dan tak kunjung membaik. Mungkin juga karena adanya wabah penyakit tropis dan pes yang sedang menjangkiti pulau tersebut. Hingga akhirnya ia wafat, konon ia dikebumikan masih mengenakan baju pengantinnya. Dari beberapa cerita, ia masih sering terlihat di sekitar pulau masih mengenakan baju tersebut hingga sekarang. Entah benar atau tidak, saya sendiri juga belum mengetahuinya. Tapi bagian ini yang bikin saya merinding.
9
Kalau mau baca lebih jelas tulisan dalam bahasa Belandanya bisa di-klik gambarnya,
kalau mau tau artinya apa bisa googling biar lebih jelas artinya, saya takut salah menafsirkan.
Setelah melihat-lihat area Dutch Graveyard kami pun berjalan mengikuti jalan setapak hingga lagi-lagi kami melihat beberapa makam pribumi. Dan tak jauh dari sana terdapat sebuah makam yang di dekatnya tertulis Makam Keramat (Sacred Grave). Tidak begitu kami ketahui siapa sebenarnya yang dimakamkan di sini. Konon ini adalah makam petinggi DI/TII S.M. Kartosoewiryo, tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia dimakamkan di Pulau Ubi yang sekarang sudah hilang karena abrasi air laut. Saya jadi bertanya dalam hati, mengapa tempat ini dipenuhi banyak makam? Dan hari ini diisi dengan mengunjungi banyak pemakaman.
Mungkin aku sedang diingatkan bahwa "Kematian itu sangatlah dekat" dan kita harus siap untuk menghadapinya.

Perjalanan hari ini terasa penuh misteri, karena beberapa kali kami menjumpai makam-makam yang sudah berumur sangat tua ketika berjalan mengitari pulau. Hingga muncul pula perasaan tidak enak di dalam hati. Entah karena suasana dan aura tempat ini atau karena sebenarnya kami sudah lapar. Namun semua perasaan itu pun akhirnya hilang, ketika kami melihat rumah penduduk yang merangkap menjadi warung-warung makan. Senyum sumringah segera menghiasi wajah kami lagi. Ingin rasanya aku berlari untuk segera mendapatkan air kelapa muda yang dipadu dengan es batu dan ditambah dengan gula merah. Serta berlari lebih cepat lagi menuju warung demi seporsi makanan untuk disantap.

Di ujung jalan setapak ini, kami akhirnya bertemu lg dengan para anggota rombongan kapal kayu kami. Aku pun jumpa pula dengan Vin dan Ian yang sedang memegang kotak makanan untuk kami. Segera kami semua mencari lapak untuk makan. Duduk di bawah pohon yang ada di tepi pantai dan memandang ke arah laut sambil memakan nasi yang ada di dalam kotak terasa begitu nikmat, apalagi ditambah dengan es kelapa muda yang dicampur gula merah.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman : 55 )
Seusai makan kami pun segera beribadah di tempat yang sudah disediakan. Tak terasa lebih dari 2 jam kami berada di pulau ini. Matahari pun sudah mulai condong ke arah Barat. Dan kami harus segera kembali ke Pelabuhan Muara Kamal sebelum matahari tenggelam di Barat. Sudah cukup rasanya remah-remah peninggalan “Perjalanan” yang dapat aku kumpulkan di tempat ini. Aneka misteri dan History menjadi bahan pelajaran yang bisa aku ambil hikmahnya. Entah dari mana datangnya suara sebuah lagu yang terngiang di telinga ini.

I won't be the last
I won't be the first
Find the way
to where the sky meets the earth
Its all right and all wrong
for me it begins at the end of the road
We come and go
Sebuah lagu dari Eddie Vedder - End Of The Road (Soundtrack Into The Wild) seolah ingin menutup perjalanan di pulau ini.

Namun, masih ada perjalanan yang harus kami lakukan, menuju ke pulau selanjutnya. Sebuah tujuan yang entah akan menyambut kami dengan apa dan bagaimana, tapi yang pasti di sana lah perjalanan hari ini untuk sementara akan berakhir.
Di Pulau Cipir.

Location : Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

PULAU KELOR : Garis Depan Penahan Teror Milik VOC Yang Terkenal Horror (3 in 1)
DKI Jakarta, Jakarta Selatan, tepat saat aku sedang berulang tahun.

Apa maksudnya 3 in 1? Pergi ke tiga pulau sekaligus dalam satu hari? Dan lagi pulau-pulau ini dekat serta terjangkau dari Kota Jakarta?
Mana mungkin ada. Jangan membual kawan! Kamu tidak dapat menipu ku.

Bahkan pergi ke Pulau Tidung saja memakan waktu perjalanan yang cukup lama. Mungkin itu yang akan terlintas dalam benak kita ketika kita ingin pergi berpetualang ke sebuah pulau tapi kita berharap bahwa pulau tersebut berada dekat dari Kota Jakarta. Wisata mengunjungi pulau yang harus ditempuh dengan menaiki kapal tidak mungkin bisa didapatkan bila kita tidak bepergian dengan jarak yang cukup jauh dari Ibukota.

Berhubung hari ini hari libur nasional, aku pun bersedia memenuhi undangan untuk melakukan suatu “Perjalanan” ke sebuah (eh, salah.. ternyata tiga buah) tempat yang aku belum pernah kunjungi sebelumnya. Apalagi hari ini hari yang special bagiku. Tepat pada hari ini bertambah usiaku. Belum ada rencana untuk pergi ke mana pun, atau melakukan suatu kegiatan apa pun, maka akhirnya aku pun memulai perjalanan ini. Dan di pagi hari yang berawan ini aku sudah berada di sebuah Pelabuhan yang bernama Muara Kamal.
1
Pelabuhan Muara Kamal, adalah sebuah pelabuhan kecil yang digabung dengan Pasar Ikan lokal, sehingga membuat kondisi di tempat ini kurang nyaman. Hampir mirip dengan Pelabuhan Muara Angke, tapi lebih kecil untuk luasan areanya. Jalanan yang tetap becek walaupun sudah diaspal, serta bau amis ikan laut segar yang sedang dijajakan oleh para pedagang membuat kondisi tempat ini menjadi lebih “sempurna”. Ketika sedang menyusuri jalan menuju ke arah dermaga sudah tiga kali aku dipanggil oleh para tukang ojek setempat. Mereka menawarkan jasanya untuk mengantarku menuju ke dermaga. Padahal aku taksir jaraknya tak lebih dari 200 meter saja dari tempatku sekarang. Aku putuskan untuk tetap berjalan kaki sambil mencoba merekam setiap kejadian di sana.
2 3
Di dermaga aku akan bertemu dengan teman seperjalananku, Ra, Vin, dan Ian, mereka pula yang sebenarnya punya ide untuk petualangan hari ini. Tampaknya Ra betul-betul ingin menepati janjinya yang dulu, ingin menjadi pemandu bagiku ke suatu tempat yang belum pernah kudatangi. Ternyata dermaga di pelabuhan ini berbentuk sebuah bangunan yang tertutup atap dan terbuat dari beton. Aku pun bingung, karena yang aku tau dermaga itu langsung berada di tepian laut. Tapi kusimpan pertanyaanku saat itu. Bertemu mereka membuatku memutuskan untuk mengajak mereka membeli sarapan dulu di tempat itu, tapi beberapa sudah sarapan di rumah atau membawa bekal sarapan. Setelah menyantap sampai tidak bersisa sarapanku pagi ini dan meneguk air mineral dalam botol, kami pun melanjutkan perjalanan serta berjalan meninggalkan dermaga. Dari bangunan itu kami berjalan menyusuri tepian laut yang tidak berpasir hingga tiba di sebuah dermaga yang terbuat dari kayu, di ujung jembatan kayu terparkir sebuah kapal kayu yang beratap lengkap dengan sebuah mesin diesel di bagian buritan kapal.
Ternyata inilah dermaga Pelabuhan Muara Kamal yang sebenarnya. Terjawab sudah pertanyaanku.
8
Menaiki sebuah perahu kayu kita akan akan langsung merasakan sensasi dari semilir angin laut yang menerpa wajah. Cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk dari pinggir atap kapal terasa hangat di kulit saat ini. Semua penumpang telah naik, ada sekitar 16 penumpang dan 1 orang pengemudi perahu saat itu. Serta ada tiga kapal lain yang akan menjadi regu seperjalanan kami saat ini. Mesin diesel yang digunakan untuk menjalankan perahu segera dinyalakan dan perjalanan pun dimulai. Tiga buah kapal lain pun sudah jalan terlebih dahulu di depan kami.
6.jpg
Kami akan berada di atas perahu dan mengarungi lautan selama kurang lebih 30 menit. Terlihat gradasi air laut yang perlahan berubah dari warna yang agak gelap dan bersampah hingga menjadi cukup biru. Sepanjang perjalanan dapat kami temui beberapa bambu atau kayu yang digunakan sebagai keramba ikan dan disematkan di tengah laut. Beberapa nelayan yang mencoba beternak ikan pun terlihat sibuk mondar-mandir mengunjungi keramba mereka.
Kami pun sibuk bercanda dan bercerita selama perjalanan itu, hingga tiba-tiba suara mesin diesel tak terdengar lagi.
Mesin itu sangat berisik sebelumnya dan sangat bising di telinga, tapi kini tak terdengar lagi. Aku lihat ke arah belakang ternyata sang pengemudi perahu sedang mencoba menyalakan kembali mesin perahu yang tiba-tiba mati tanpa sebab yang jelas. Sementara itu perahu kami yang tidak melaju menjadi terombang ambing oleh ombak. Goyangan ke kanan dan ke kiri membuat beberapa ibu-ibu yang tadinya sibuk berfoto dan mengobrol menjdi panik karena takut perahu terbalik.
11 12
“Wah, mesinnya mati tiba-tiba begini. Kalau sampai terbalik perahunya langsung berenang ke arah keramba ikan ya!”, ucapku asal.
“Amit-amit jangan sampai begitu deh. Kenapa bisa mati ya?”, tanya Ra.
“Mungkin mesinnya mogok atau solarnya habis.”, jawab Ian.
“Jangan sampe deh, mudah-mudah cepet bisa nyala lagi mesinnya.”, ucap Vin.
Sayangnya tidak ada sinyal ponsel saat itu hanya terlihat timbul-tenggelam di layar. Tidak ada kapal yang dapat kami hubungi dan kapal lain yang menjadi regu kami sudah berada di depan. Harapan kami hanya semoga ada kapal yang melintas dari arah belakang, tapi nampaknya tak ada tanda-tanda akan ada kapal lain. Bahkan kapal para nelayan keramba sudah tak terlihat lagi. Setelah mengutak-utik mesin, akhirnya sang pengemudi kapal dapat menyalakan mesin perahu kembali, entah bagaimana caranya. Terdengar ucapan syukur dari beberapa mulut penumpang yang ada. Perjalanan dilanjutkan kembali. Hati kami sedikit lega, tapi sejujurnya masih khawatir bila kejadian ini akan terulang lagi.
14.jpg
Meninggalkan area keramba, kami pun sampai di lautan lepas. Sungguh sejauh mata memandang hanya ada lautan dan langit yang dibatasi oleh garis horison. Terlihat iringan jet ski di kejauhan yang sedang berlomba-lomba menuju Pulau Bidadari yang ada di sebelah kanan kami. Setelah melewati sang Pulau Bidadari tampak lah sebuah pulau kecil di kejauhan yang mempunyai sebuah bangunan menyerupai benteng kecil. Itulah tujuan kami yang pertama, Pulau Kelor.
4
Berlabuh di dermaga Pulau Kelor segera kami berjalan memasuki pulau. Terhampar di sana area yang berpasir putih menyambut kami di sisi kanan, dan bebatuan yang mencoba menahan serta memecah ombak di sisi kiri kami. Saya pun mencoba menikmati halusnya pasir putih yang langsung mengenai kaki setelah mencopot sendal gunung saya. Sementara Vin, Ra, dan Ian sudah berjalan menuju bangunan yang menyerupai benteng. Sebuah bangunan kecil tepat di depan dermaga menjadi tempat bagi para pengelola pulau bekerja. Ku coba untuk menghamipiri tempat itu. Kucoba pula menanyakan semua hal yang aku ingin tau.
“Pulau Kelor dulunya disebut Pulau Kherkof, mungkin karena areanya yang sangat kecil akhirnya tempat ini disebut dengan Pulau kelor, seperti layaknya hanya seluas daun kelor. Dulunya pulau ini digunakan sebagai garis depan untuk mengawasi wilayah perairan Batavia. Makanya didirikan sebuah benteng yang diberi nama Benteng Martello.
19.jpg
Benteng ini berbentuk melingkar terbuat dari batu bata merah dan dibangun oleh VOC pada abad 17 untuk membendung serangan-serangan yang mengarah ke Batavia. Sekarang sih bangunan itu sudah tidak sekuat dulu, karena pada tahun 1880-an sempat terkena dampak tsunami Gunung Krakatau yang meletus. Meskipun sempat porak poranda tapi nyatanya ia tetap kokoh berdiri di sana dengan pesona eksotisnya yang terkadang mistis.”, ujar salah seorang di sana.
“Mistis?”, tanya seorang pengunjung lain yang ingin tau.
“Dulu banyak pejuang Indonesia dan tahanan yang sedang ditawan oleh pasukan Belanda yang gugur di sini. Bahkan cukup banyak pemberontak yang mencoba melawan para penjajah juga tak luput dari maut pada masa itu. Konon beberapa dari mereka dimakamkan di sini. Dan dikenal dengan Makam Zevent Provicien (Peristiwa Kapal Tujuh). Tapi tenang saja, setau saya makam-makam tersebut sudah dipindahkan ke TMP Kalibata pada masa kepemimpinan presiden pertama RI. Walaupun pada malam hari di sini tidak ada listrik, banyak juga kok yang sering berkemah di sini. Kadang mereka malah tidur di dalam benteng saat angin sedang kencang, aman-aman saja.”, jawab orang itu menenangkan.
Setelah puas mendengarkan secuil sejarah dari pulau ini, aku pun tidak sabar untuk bertualang menjelajahinya. Mengitari sisi bagian yang berbatu kulihat beberapa orang sibuk memancing di sana. Beberapa wisatawan lain juga sibuk berpose di sekitar Benteng.
7.jpg
Aku juga tidak mau ketinggalan untuk menyusuri benteng yang berbentuk melingkar tersebut. Memasuki bagian dalamnya kulihat benteng yang terbuat dari tumpukan batu bata yang sangat banyak kokoh berdiri. Terdapat banyak jendela di bagian atasnya. Ada bentuk aneh pada bagian pusat di dalam benteng yang aku sendiri tidak tau apa fungsinya. Yang menarik perhatianku adalah ada beberaaorang yang bisa naik hingga ke jendela bagian atas.
10.jpg
Kucoba untuk mencari jalur supaya aku juga bisa naik ke sana. Setelah mencari jalan dan mencoba berbagai cara untuk memanjat dinding bata. Akhirnya aku bisa duduk di salah satu jendela dan menghadap ke arah laut. Sungguh damai rasanya, saat rambut tersapu angin lembut sambil memandangi laut. Seketika waktu terasa berhenti, ingin rasanya aku dapat menahan jalannya sang waktu agar waktu tidak dapat berjalan kembali hanya untuk sekedar menikmati suasana ini, lebih lama lagi. Benar-benar cocok untuk sejenak melepas penat dari hiruk-pikuk kesibukan Kota Jakarta.
17.jpg
“Ra, Wira! Buruan turun! Jalan lagi yuk ke bagian pulau yang lain!”, ajak Ra diikuti dengan suara Ian.
“Yuk turun, Boss!”, ajak Ian padaku.
Enggan rasanya aku turun dari jendela yang damai ini. Tak terbayang jika dulunya benteng ini sangat sibuk dan dijadikan tempat untuk mengangkat senjata. Namun, kami sudah harus beranjak dari pulau ini, karena sudah cukup lama pula aku bersantai, berfoto dan berjalan-jalan menyusuri pulau bersama rekan seperjalanan. Kami segera menuju dermaga untuk menaiki perahu kembali. Meninggalkan kepingan sejarah yang semakin lama semakin hilang jika masyakaratnya tak mau mencoba menengok ke belakang dan membaca ulang. Layaknya bagian-bagian pulau ini yang mulai terabrasi oleh air laut.

Remah-remah yang ditinggalkan oleh “Perjalanan” mengajarkanku untuk jangan pernah melupakan sejarah yang pernah ada. Selalu mau untuk belajar hal baru tentu kita akan menjadi lebih tau. Siapa lagi yang akan mengingat kita, mengingat jasa para pejuang yang mengambil alih kapal penjajah pada tragedi Zeven Provicien jika bukan kita para generasi muda, generasi penerus yang tak boleh hanya berjalan terbawa arus. Tak semua dari kita kaum muda yang tau tentang sejarah ini adalah bukti bahwa lebih banyak lagi hal yang kita belum ketahui dan harus kita pelajari.
Matahari yang perlahan berjalan menuju posisi puncaknya menemani perjalanan kami ke pulau selanjutnya. Pulau Onrust.

Location : Pulau Kelor, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Indonesia
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

MERANTAULAH
(Syair Imam Asy-Syafi’i)

ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﻟـﺬﻱ ﻋﻘـﻞٍ ﻭﺫﻱ ﺃﺩﺏٍ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﺔ
Orang berilmu (pandai) dan beradab tidak akan diam di kampung halaman(nya).

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Aku sendiri tidak tau pasti kapan tepatnya aku mulai menyukai kata “Perjalanan”. Mungkin semua itu dimulai sejak aku akhirnya terbiasa untuk menempuh perjalanan yang jauh ketika aku berangkat dari rumah menuju ke sekolah.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Ga kerasa tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti menjadi tahun 2018.
Banyak hal yang terjadi sejak bulan pertama hingga bulan yang terakhir.
Banyak hal yang mengubah hidup saya.
banyak pihak yang telah mau berbagi dengan saya.
Banyak pihak yang telah membantu saya.

Selamat Tahun Baru 2018!
Selamat Berkarya!
Pada tahun 2018 ini saya memberikan tantangan bagi diri saya sendiri
untuk lebih banyak berbagi dalam bentuk apa saja kepada siapa pun.
Salah satunya berbagi pengalaman saya dalam bentuk cerita.
Selamat berbagi, Selamat membaca!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts

About me



RENDY KAMIL

is an Indonesian Explorer
interest with Photography & Videography
'Cause
"Your Life is Only Real When Shared"
instagram.com/rendykamil
youtube.com/rendykamil
You are here with
Travellers

Follow Us

Labels

30HariBercerita Celoteh Cerita Garut Gunung Papandayan Perjalanan Puisi Pulau Cipir Pulau Kelor Pulau Onrust Pulau Seribu Travel Guide Travel Story

Popular Posts

  • PERJALANAN
    Aku sendiri tidak tau pasti kapan tepatnya aku mulai menyukai kata “ Perjalanan ”. Mungkin semua itu dimulai sejak aku akhirnya terbias...
  • Jelajah 3 Pulau : Pulau Kelor
    PULAU KELOR : Garis Depan Penahan Teror Milik VOC Yang Terkenal Horror (3 in 1) DKI Jakarta, Jakarta Selatan, tepat saat aku sedan...
  • SYAIR PERJALANAN
    MERANTAULAH (Syair Imam Asy-Syafi’i) ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﻟـﺬﻱ ﻋﻘـﻞٍ ﻭﺫﻱ ﺃﺩﺏٍ ﻣﻦ ﺭﺍﺣﺔ Orang berilmu (pandai) dan beradab tidak a...
  • Gunung Papandayan : Setiap Tujuan Harus Selalu Diperjuangkan! (2/4)
    Garut, Senin dini hari, saat bulan bersinar terang setelah hujan berhenti, saat pagi segera ia akan berganti dengan matahari. Sebua...
  • Gunung Papandayan - Walau Terasa Sulit, Usahakan Untuk Summit! (3/4)
    Gunung Papandayan, Senin siang, saat kami melakukan perjalanan menuju ke sebuah tanah lapang. Berjalan kaki sekitar 45 menit menyusur...
  • 30 Hari Bercerita : Menulis
    #30HBC1805 #30HariBercerita Menulis Mungkin terdengar melankolis, puitis, atau romantis. . Tapi sejak dulu saya ingin sekali d...
  • 30 Hari Bercerita : Terbit Tenggelam
    #30HBC1804 #30HariBercerita Tenggelam atau terbit Bedanya hanya sedikit Tapi saya selalu suka Saat-saat cahaya Datang Dan hi...
  • 30 Hari Bercerita : Jatuh
    #30HBC1802 #30HariBercerita Jatuh dan tersungkur Terpuruk hingga menunduk Membuat suasana semakin buruk Rasanya tak mungkin ...
  • Goodbye, Welcome !
    Ga kerasa tahun 2017 akan segera berakhir dan berganti menjadi tahun 2018. Banyak hal yang terjadi sejak bulan pertama hingga bulan ...
  • Gunung Papandayan : Jangan Hanya Termenung! Ayo Pergi Ke Gunung! (1/4)
    DKI Jakarta, Minggu pagi, aku sendiri tidak dapat mengingatnya dengan detail, tetapi masih di bulan-bulan awal tahun 2015. Semua in...

recent posts

Blog Archive

  • ►  2018 (9)
    • ►  January (9)
  • ▼  2017 (8)
    • ▼  December (8)
      • Gunung Papandayan : Jangan Hanya Termenung! Ayo Pe...
      • Travel Guide : Pergi Ke 3 Pulau Dalam 1 Hari (3 in 1)
      • Jelajah 3 Pulau : Pulau Cipir
      • Jelajah 3 Pulau : Pulau Onrust
      • Jelajah 3 Pulau : Pulau Kelor
      • SYAIR PERJALANAN
      • PERJALANAN
      • Goodbye, Welcome !

Google+

Unknown
View my complete profile

Search This Blog

FOLLOW ME @INSTAGRAM

by Rendy Kamil and R